sewa ambulance

pada

Tips Mengajarkan Pendidikan Seks pada Anak sesuai Usia

Memasuki usia 1 tahun, kecerdasan si Kecil pasti bertambah banyak ya, Mums. Tak hanya jumlah ocehannya, namun juga kemampuannya untuk memahami hal di sekitarnya. Namun, terlalu cepatkah untuk mengenalkannya pendidikan seks di usia ini? Dan jika tidak, mana dulu yang bisa dikenalkan padanya? Yuk, kupas di sini, Mums.

Memberikan Pendidikan Seks untuk si Kecil, Mulai dari Mana?

Jika mengingat masa kecil kita dulu, mengucapkan kata “seks” saja sudah sangat tabu, ya, Mums. Belum lagi, media informasi digital tak seperti saat ini yang sangat mudah diakses. Tak heran, masa lalu kita sebagai anak kecil yang besar di tahun ‘80 hingga ‘90-an, sangat jauh dari pendidikan seks yang layak dan transparan.

Kini, keadaannya sangat berbeda. Para ahli justru menyarankan orang tua untuk mengenalkan pada pendidikan seks di usia dini, bahkan sebelum anak bisa bicara. Ya, ilmu yang satu ini memang tak mudah untuk dijelaskan, dan pastinya terasa canggung atau jengah. Namun, ada prinsip yang perlu selalu diingat: jangan biarkan rasa canggung itu berkuasa. Karena, ada misi yang lebih penting daripada rasa jengah kita, yaitu jangan sampai si Kecil mendapatkan ilmu soal seksualitasnya dari orang atau sumber lain yang belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Bagaimana jika orang tua kehabisan cara untuk menjelaskan? Saran dari para ahli adalah tidak apa-apa untuk mengakui bahwa Mums tidak memiliki jawaban untuk semua pertanyaannya. Dan, tepat sebelum Mums mencoba menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan seks pada si Kecil, cobalah ajukan pertanyaan klarifikasi seperti, “Adek dengar dari mana kata itu?”. Hal ini dimaksudkan agar Mums bisa memberikan respons yang sesuai.

Lalu, harus mulai dari mana untuk memberikan pendidikan seks dini pada anak? Walau anak-anak mulai bisa membedakan jenis kelamin dan genitalia di usia tiga tahun, para ahli sepakat bahwa mengenalkan alat kelaminnya dalam kegiatan sehari-hari, bisa menjadi langkah awalnya. Dan ingat, gunakanlah penamaan yang akurat, hindari menggunakan istilah eufemisme, seperti “burung”, “huha”, “bunga”, dan panggilan “halus” lainnya.

“Penting untuk menggunakan bahasa yang akurat, yaitu penis dan vagina, mulai dari hari pertama orang tua mengenalkan genitalia pada anak. Tujuannya adalah untuk membuka saluran komunikasi dengan cara yang jujur ​​dan terus terang, serta untuk menekankan bahwa tidak apa-apa jika si Kecil ingin membicarakan tubuhnya. Penamaan genitalia yang benar juga bermanfaat untuk mengidentifikasi anatomi seksual tertentu. Jika misalnya si Kecil mengalami masalah kesehatan atau cedera pada organ intimnya, ia dapat memberi tahu orang tuanya dengan jelas,” papar Stephanie Mitelman, seorang pendidik seksualitas bersertifikat dari Universitas McGill and Concordia universities di Montreal, Kanada.

Baca juga: Awas, Mencabut Gigi Si Kecil Tanpa Bantuan Dokter Bisa Berbahaya!

Tahap Pendidikan Seksual Sesuai Usia

1. Usia <24 bulan

Berbicara tentang seksualitas sama halnya seperti pemberian stimulasi. Lakukanlah secara bertahap sesuai usianya. Untuk usia 2 tahun pertama, memang tak banyak yang bisa Mums lakukan. Namun, di sinilah fase pentingnya karena menjadi langkah awal untuk mengenali bagian tubuh privatnya. Beberapa hal yang bisa Mums lakukan adalah:

  • Mengenalkan bagian tubuh privatnya dengan nama akurat.
  • Tak apa bila si Kecil ingin menyentuh area privatnya, seperti saat mandi atau berganti popok.
  • Mulai mengenalkan bahwa ada dua jenis kelamin yang berbeda. Anak laki-laki memiliki penis, anak perempuan memiliki vagina.
  • Ceritakan tentang fungsi dari bagian tubuh manusia, termasuk yang berhubungan dengan organ intimnya. Misal, dari mana datangnya urine, kenapa BAB dilakukan melalui area bokong, dan lain sebagainya.
  • Mengenalkan rasa risih dan malu ketika si Kecil tidak mengenakan atasan atau bawahan. Konsisten ingatkan bahwa ia boleh tidak mengenakan pakaian hanya di dalam kamar, bukan di tempat umum atau ketika ada orang asing.

2. Usia 2-5 tahun

Seiring dengan perkembangan kecerdasan serta cakupan sosialnya, maka pendidikan seks untuk anak di rentang usia ini sudah makin beragam. Beberapa hal penting yang perlu Mums ajarkan adalah:

  • Menyebutkan dengan benar bagian tubuh beserta fungsinya.
  • Jelaskan bahwa alat kelamin anak laki-laki dan perempuan memang berbeda, namun juga memiliki bagian yang sama seperti bokong, puting susu, dada, tangan, hidung, dan lain-lain.
  • Setiap orang diciptakan dengan bentuk yang unik, sehingga ia tak perlu malu atau berkecil hati jika penampilannya tidak seperti teman-temannya.
  • Ajarkan bahwa ada beberapa bagian tubuh sama sekali tidak boleh dilihat dan disentuh oleh siapa pun, kecuali orang tua, atau pengasuh yang sudah dipercayakan oleh orang tuanya, atau dokter di rumah sakit ketika ia sakit.
  • Si Kecil punya hak untuk menolak dipeluk, dicium, atau disentuh, bahkan oleh orang tuanya sendiri.

Baca juga: Apakah Pemanis Buatan Aman untuk Anak?

  • Menyentuh area privatnya boleh saja, namun berikan pemahaman bahwa ada batasan untuk melakukan itu. Misal, boleh menyentuh penis ketika akan buang air kecil di kamar mandi.
  • Bisa saja suatu hari Mums akan melihat atau memergoki si Kecil bermain “dokter-dokteran” dengan teman seusianya untuk saling memperlihatkan atau menyentuh area privatnya. Jika hal itu benar terjadi, usahakan tetap tenang, sela kegiatan mereka dengan cara yang baik, dan alihkan aktivitas tersebut ke hal yang lain. Di saat kondisi sudah terkendali, coba jelaskan bahwa permainan tersebut kurang pantas dan ada aturan tentang menyentuh atau memperlihatkan area privatnya.
  • Pertanyaan tentang dari mana datangnya bayi umumnya akan menjadi topik yang membuat si Kecil penasaran. Alih-alih membohonginya dengan cerita khayalan, jelaskan singkat dengan jujur. Misal: anak bayi merupakan pemberian Tuhan yang dititipkan di dalam perut ibunya, lalu dilahirkan ke dunia.
  • Rasa penasaran si Kecil tentang lawan jenis akan berkembang ke hubungan antarmanusia, seperti hubungan Mums dan Dads. Jika ia bertanya mengapa ayah dan ibunya menikah, Mums bisa menjelaskan bahwa hanya laki-laki dan perempuan dewasa yang boleh menikah dan memiliki anak.
  • Beri pemahaman pada si Kecil untuk tidak merahasiakan hal-hal yang berhubungan dengan fisik dan perasaannya. Katakan bahwa rahasia hanya untuk menyembunyikan kejutan atau hadiah.
Baca juga: Ini Perbedaan antara Anak Introvert dan Pemalu

Sumber:

About Kids health. Children’s Sexuality.

Today’s Parent. How to Talk to Kids about Sex.

Hey Sigmund.Guide to Sex Education.

Today’s Parent. What Kids Should Call Their Private Parts?

Terdapat Milia pada Wajah Bayi, Haruskah Waspada?

Apakah Mums menemukan benjolan-benjolan mini berwarna putih atau kekuningan di sekitaran hidung atau pipi bayi? Tak jarang, masyarakat menyebutnya sebagai jerawat bayi. Namun meski bentuknya mirip, benjolan-benjolan tersebut merupakan kumpulan dari kista milium, yang dikenal dengan nama milia!

Milia muncul ketika keratin terperangkap di bawah permukaan kulit. Keratin sendiri merupakan protein tinggi yang umumnya ditemukan di dalam jaringan kulit, rambut, dan sel kuku. Masalah kulit ini dapat terjadi pada siapa saja, tetapi biasanya kerap ditemukan pada bayi baru lahir. Yuk, cari tahu penyebab dan bagaimana menanganinya!

Milia pada Bayi

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, milia adalah benjolan-benjolan kecil berwarna putih atau kuning, yang biasa muncul di bagian pipi, hidung, sekitaran bibir, dan lipatan mata. Kadang kala, ini bisa muncul bagian tubuh lainnya, seperti torso atau area genital. Namun jika mums menemukan benjolan tersebut di area gusi dan mulut si Kecil, itu bukanlah milia ya, Mums, melainkan kondisi yang disebut Epstein pearls.

Baca juga: Bayi Baru Lahir Sakit Kuning, Bukan Hanya Karena Kurang Dijemur, lho

Milia biasanya sudah muncul sejak si Kecil dilahirkan, tetapi penyebabnya sendiri masih belum diketahui hingga sekarang. Ini tidak terasa sakit ataupun gatal, serta tidak akan meradang atau membengkak.

Tipe-tipe Milia

Tipe milia diklasifikasikan berdasarkan di usia berapa kondisi ini muncul atau apa yang menyebabkan milia berkembang. Tipe-tipenya pun dibagi menjadi kategori primer dan sekunder.

Milia kategori primer terbentuk akibat keratin yang terperangkap di bawah kulit. Kelompok kista milium ini dapat ditemukan di wajah bayi maupun orang dewasa. Sedangkan milia kategori sekunder terbentuk akibat penyumbatan saluran ke arah permukaan kulit, misalnya ketika kulit mengalami cedera, terbakar, atau melepuh.

Neonatal milia merupakan tipe yang masuk ke dalam milia kategori primer. Kondisi yang satu ini terjadi pada bayi baru lahir dan akan hilang dalam waktu beberapa minggu. Milia biasanya muncul di area wajah, kulit kepala, dan torso bagian atas. Berdasarkan keterangan dari Seattle Children’s Hospital, milia muncul pada 40% bayi baru lahir.

Baca juga: Tak Perlu Panik, Begini Cara Atasi Pilek pada Bayi Baru Lahir

Penanganan Milia pada Bayi

Pada dasarnya, tidak ada penanganan khusus bagi milia pada bayi baru lahir. Kumpulan kista milium tersebut akan hilang beberapa minggu setelah kelahiran dan tidak akan menyebabkan masalah jangka panjang. Namun jika terjadi pada anak-anak yang lebih besar atau orang dewasa, dibutuhkan proses yang lebih panjang sampai milia hilang sepenuhnya.

Untuk menjaga kesehatan kulit bayi, Mums bisa melakukan:

  • Rutin membersihkan wajah si Kecil setiap hari dengan air hangat dan sabun khusus untuk kulit bayi.
  • Keringkan wajah si Kecil dengan cara menepuk-nepuknya lembut menggunakan handuk bersih.
  • Jangan memencet area milia atau menggosoknya dengan kencang karena dapat menyebabkan iritasi atau infeksi.
  • Hindari penggunaan produk kulit yang tidak aman dan memiliki tambahan pewangi.
Baca juga: Menguji Refleks Babinski dengan Menggelitik Kaki Bayi

Apabila milia tidak kunjung hilang, Mums bisa berkonsultasi dengan dokter anak untuk memastikan apakah ia mengalami masalah kulit tertentu. Dokter akan menganalisis milia berdasarkan penampakannya. Jika milia yang ada di kulit si Kecil menimbulkan ketidaknyamanan, ada beberapa penanganan yang bisa dilakukan oleh dokter, yakni:

  • Cryotherapy: Menggunakan nitrogen cair untuk membekukan milia. Ini adalah metode untuk menghilangkan milia yang paling sering digunakan.
  • Deroofing: Menggunakan jarum steril untuk mengambil isi kista milium.
  • Topical retinoids: Menggunakan krim yang mengandung vitamin A untuk mengeksfoliasi kulit.
  • Chemical peels: Proses pengelupasan lapisan pertama kulit secara kimiawi.
  • Laser ablation: Menggunakan laser kecil untuk menghilangkan milia.
  • Diathermy: Menggunakan tenaga panas ekstrem untuk menghancurkan milia.
  • Destruction curettage: Penghilangan milia melalui prosedur pembedahan.

Nah, Mums tidak perlu khawatir ya dengan kemunculan milia pada wajah si Kecil. Pasalnya, kondisi ini tidak berbahaya dan akan hilang dengan sendirinya dalam waktu beberapa minggu. Namun bila tidak kunjung hilang dan si Kecil tampak tidak nyaman, berkonsultasilah ke dokter anak. (AS)

Baca juga: Mums, Bayi Prematur Juga Memiliki Keistimewaan, lho!

Cara Merawat Pusat Bayi | GueSehat

Referensi

Healthline: Milium Cysts in Adults and Babies

Mayo Clinic: Milia

Persalinan Normal pada Ibu Hamil Bermata Minus, Menyebabkan Kebutaan?

Memiliki gangguan penglihatan rabun jauh, miopi, atau mata minus, sudah lama diyakini menjadi penutup jalan untuk bisa melahirkan normal. Proses mengejan dalam proses persalinan pervaginam spontan, kabarnya akan menyebabkan efek yang serius pada retina sehingga menyebabkan kebutaan. Benarkah itu? Kabar baiknya, hal tersebut ternyata tidak terbukti secara medis. Yuk, baca informasinya lebih lanjut, Mums!

Kehamilan Memengaruhi Penglihatan

Tidak diragukan lagi, kehamilan memang sebuah fase perubahan yang besar untuk Mums. Dalam kurang lebih 40 minggu, bukan hanya organ reproduksi yang bekerja keras dan berubah, setiap bagian tubuh Mums ikut terimbas pula, termasuk penglihatan.

Kehamilan dapat memicu perubahan pada mata dan penglihatan karena fluktuasi hormon, metabolisme, retensi cairan, sirkulasi darah dan sistem kekebalan tubuh. Ada beberapa gangguan penglihatan yang bisa terjadi selama kehamilan, seperti:

  • Perubahan kornea

Perubahan hormon ikut memengaruhi kelengkungan dan ketebalan (edema) kornea, yang menyebabkan intoleransi terhadap lensa kontak. Selain itu, perubahan yang terjadi secara alami pada kornea dapat membuat pemakaian lensa kontak menjadi sulit dan menyembunyikan potensi infeksi atau beberapa cedera kecil di tempat-tempat yang tidak mudah dideteksi.

  • Ketajaman visual

Beberapa ibu hamil mengeluhkan penglihatan mereka menjadi atau semakin kabur sejak hamil. Hal ini diakibatkan akibat adanya perubahan penglihatan (refraksi), sehingga Mums merasa harus mengganti lensa kacamata atau membutuhkan kacamata untuk bisa melihat dengan jelas.

  • Fotofobia

Sakit kepala dan migrain karena perubahan hormon dapat menyebabkan sensitivitas yang besar terhadap cahaya.

  • Pre-eklampsia

Selain ditunjukkan dengan tekanan darah tinggi selama hamil, gejala umum pre-eklampsia yang perlu diwaspadai adalah penglihatan kabur. Hal ini bisa juga disertai dengan sakit kepala, fotopsia (mata seperti terpapar kilat blitz kamera), dan diplopia (penglihatan ganda).

  • Retinopati serosa sentral

Adalah kaburnya penglihatan secara tiba-tiba akibat adanya cairan yang merembes dari bagian belakang retina. Hal ini bisa terjadi pada kedua atau salah satu mata saja, dan umumnya terjadi di trimester tiga.

  • Munculnya/memburuknya rabun jauh

Jika sebelumnya Mums tidak memiliki gangguan penglihatan, atau kacamata yang biasa digunakan tidak sejelas biasanya, hal ini umum terjadi akibat adanya perubahan hormon.

Semua gangguan penglihatan di atas, bersifat sementara dan akan kembali seperti sedia kala setelah Mums telah melahirkan. Walau begitu, pemeriksaan mata oleh dokter spesialis mata selama hamil sangat dianjurkan sebagai tindakan pencegahan yang penting. Meskipun pada kenyataannya, secara umum, kebanyakan ibu hamil menghindarinya.

Baca juga: Jangan Menunggu Vaksin Covid-19, Tetap Lakukan Kebiasaan Ini Setiap Hari!

Persalinan Normal Sebabkan Kebutaan, Hoaks!

Rabun jauh terjadi akibat ketidakmampuan mata untuk memfokuskan cahaya pada retina mata. Akibatnya, penglihatan akan kabur saat melihat objek yang jauh. Gangguan penglihatan ini, pada kenyataannya bukan hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, namun juga berimbas pada metode persalinan. Ibu hamil yang menderita rabun jauh, apalagi dengan level minus tinggi, percaya bahwa persalinan normal bukanlah pilihan lagi.

Ketakutan untuk melahirkan normal pada ibu hamil dengan rabun jauh, juga terlihat pada penelitian yang dilakukan oleh University Clinical Hospital Rijeka di Kroasia. Selama lebih dari 10 tahun, jumlah ibu hamil dengan mata minus 1,5 kali lebih banyak yang bersalin caesar, dibandingkan ibu hamil yang tidak menderita miopi. Prevalensi melahirkan caesar bahkan jauh lebih besar bagi ibu hamil yang memiliki mata minus tinggi atau minus berat, yaitu lebih dari 6+ D.

Hal ini didasarkan pada kepercayaan lama yang memperkirakan bahwa selama tahap mengejan, ibu hamil yang menderita rabun jauh berisiko mengalami ablasi retina (lepasnya retina), lalu dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen atau kebutaan. Namun nyatanya, secara mekanis ataupun fisiologis, tidak ada bukti penelitian yang dapat mendukung kepercayaan lama ini. Selama bertahun-tahun, penelitian telah menunjukkan bahwa meski tekanan vena di mata meningkat ketika Mums mengejan selama persalinan, tidak ditemukan perubahan dalam retina pasca-persalinan atau kebutaan. Penemuan ini bahkan juga berlaku untuk ibu hamil dengan tingkat minus tinggi.

Baca juga: Jenis-Jenis Penyakit Jantung Akibat Hipertensi

Jika tak benar, lalu mengapa masih ada ibu hamil dengan minus tinggi disarankan untuk bersalin caesar, bukan normal? Hal ini didasarkan atas ketebalan retina yang bervariasi pada masing-masing individu. Setelah melalui pemeriksaan dokter spesialis mata, ibu hamil dengan retina yang lebih tipis, tentu saja dapat lebih mudah robek jika ada perubahan dan tekanan di dalam mata. Sehingga, akan disarankan untuk bersalin dengan metode caesar.

Maka dari itu, ibu hamil yang mengalami retinopati diabetik (gangguan penglihatan akibat tingginya kadar gula dalam darah) sekalipun, tidak diwajibkan untuk bersalin secara caesar, karena semua tergantung pada ketebalan retinanya. Karena hingga kini, belum ada bukti kuat yang menyatakan bahwa persalinan menyebabkan kebutaan. Jadi, jika Mums memiliki mata minus dan ingin tetap bersalin normal, segeralah untuk memeriksakan kondisi mata Mums secara keseluruhan pada dokter spesialis mata. Bersama dengan dokter obgyn, dokter spesialis mata akan menyarankan metode persalinan apa yang aman untuk Mums jalani.

Baca juga: 5 Latihan Mudah untuk Persiapan Persalinan Normal

Sumber:

NCBI. The Effect of Normal Childbirth on Eyes.

Mom Junction. Most Common Reasons For Vision Changes After Pregnancy.

Nature. Breaking the Myopia Myth.

Mengatasi Kolik, Kembung, Batuk, dan Pilek pada Bayi dengan Perawatan Organik yang Aman

Namanya juga bayi, pasti ada masalah kesehatan yang mengganggunya. Ibu tidak segera menyalahkan diri sendiri, karena bagaimanapun tubuh kecil masih beradaptasi dengan lingkungan.

Sistem kekebalannya sendiri masih belum kuat dan organ-organnya sedang berkembang. Jadi itu hanya perubahan cuaca, si kecil bisa merasa tidak enak badan atau tidak nyaman. Nah, soal masalah apa yang sering mengganggu bayi?

Masalah Umum pada Bayi

1. Kolik

Menangis adalah cara bayi berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Tetapi jika si kecil menangis keras tanpa alasan, ia mungkin mengalami sakit perut. Faktanya, masalah ini mengganggu 1 dari 5 bayi.

Kolik dapat mengganggu kenyamanan Si Kecil dan Ibu Anda. Alasannya, periode ini bisa berlangsung berjam-jam dan terkadang terjadi di malam hari. Dokter biasanya mendiagnosis anak Anda mengalami kolik berdasarkan 3 hal, yaitu:

  • Bayi menangis setidaknya 3 jam sehari.
  • Periode ini berlangsung setidaknya 3 hari seminggu.
  • Periode ini berlangsung setidaknya 3 minggu berturut-turut.

Meski hingga saat ini belum diketahui dengan pasti, para ahli memberikan beberapa teori yang menyebabkan kolik pada bayi, termasuk sistem pencernaan yang tidak sempurna dan asam lambung atau yang dikenal dengan GERD (gastroesophageal reflux disease).

Baca juga: Muntah Kecil Tanpa Demam? Tetap Tenang, Ini Penjelasannya

Proses mencerna makanan adalah tugas yang sulit untuk sistem pencernaan kecil yang masih berkembang. Akibatnya, terkadang makanan bergerak terlalu cepat dan tidak dicerna dengan benar, menyebabkan sakit perut.

Sementara itu, GERD pada bayi biasanya disebabkan oleh sfingter esofagus yang belum berkembang sepenuhnya. Otot yang satu ini berfungsi untuk menjaga asam lambung tidak mengalir ke tenggorokan dan mulut. Berita baiknya, GERD pada bayi biasanya akan hilang dengan sendirinya pada usia 1 tahun.

2. Kembung

Masalah ini juga terjadi karena sistem pencernaan si kecil yang belum matang dan ia menghisap terlalu banyak udara saat ia menyusui. Selain itu, kembung juga bisa terjadi karena pola makan ibu karena bayi peka terhadap makanan atau minuman tertentu. Kembung terjadi pada awal kelahiran bayi, tetapi biasanya akan berkurang dan bahkan mereda dengan sendirinya pada usia 4-6 bulan.

3. Batuk dan Dingin

Batuk pilek atau flu sering mengganggu, terutama saat cuaca dingin. Anak-anak di bawah usia 5 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah ini. Meski bukan masalah serius, batuk pilek dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti pneumonia. Itulah sebabnya Ibu harus segera membawa Si Kecil ke dokter jika dia berusia di bawah 2-3 bulan, terutama jika Anda demam tinggi.

Baca juga: Mengapa Anak-anak Tetap Demam Setelah Diberi Parasetamol?

Perawatan Organik Terbaik untuk Si Kecil Anda dengan Calming Rub Cream

Jika anak Anda memiliki masalah kesehatan, berkonsultasilah dengan dokter anak untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat. Selama masa pemulihan, fokuslah untuk membuat anak Anda merasa nyaman di rumah dan pulih dengan cepat. Pastikan si kecil Anda mendapatkan banyak istirahat dan membuat suasana rumah selalu tenang. Jangan lupa untuk memenuhi asupan cairan dan nutrisi.

Ibu juga dapat menggunakan Buds Organics Calming Rub Cream dan memijat tubuh si kecil, terutama jika ia mengalami kembung dan kolik. Berikan pijatan lembut pada perut, bahu, punggung, dan kaki secara teratur. Kandungan ekstrak peppermint dan jahe di dalamnya akan membantu meredakan sakit perut, kembung, sirkulasi darah, dan meredakan batuk.

Buds Organics Calm Rubbing Cream | Saya sehat

Selain meredakan kembung, kolik, dan flu, Buds Organics Calming Rub Cream juga berfungsi sebagai pengganti minyak telon, yang memiliki khasiat untuk menghangatkan tubuh si kecil. Jadi, ia merasa nyaman dan rileks saat cuaca dingin atau sebelum tidur.

Mengantongi sertifikasi organik dari Ecocert (dari Perancis), Buds Organics Calming Rub Cream telah diuji secara klinis, sehingga aman untuk menggunakan bayi baru lahir untuk orang dewasa. Produk ini cocok untuk semua jenis kulit dan tidak akan menyebabkan iritasi karena bebas dari wewangian buatan dan bahan kimia berbahaya.

Manfaat lain yang tak kalah pentingnya, Tunas Organics Calming Rub Cream terdiri dari biji bunga matahari, yang mampu menjaga kelembaban kulit dan kaya akan vitamin E, lavender yang berguna untuk membunuh bakteri dan menjaga kesehatan kulit, serta shea butter sebagai bahan alami pelembab kulit dan antibakteri. Jadi itu tidak hanya membantu proses pemulihan Si Kecil, tetapi juga memelihara kulitnya. Semoga si kecil Anda pulih dengan cepat, Bu! (KAMI)

Baca juga: Bayi Berkeringat Saat Tidur, Apakah Itu Normal?

Referensi

Apa yang Harus Diharapkan: Kolik pada Bayi: Tanda, Penyebab, dan Kiat untuk Orang Tua

Apa yang Diharapkan: Punya Bayi Yang Beracun? Yang Perlu Diketahui Tentang Gejala, Pengobatan, dan Penyebab Gas Bayi

Apa yang Diharapkan: Flu (Virus Influenza) pada Bayi dan Balita

Healthline: Yang Harus Anda Ketahui Tentang Pilek pada Bayi Baru Lahir

Bertengkar dengan Suami saat Hamil, Berdampak pada Janin?

Pernikahan tidak selalu berbunga. Perselisihan dapat terjadi kapan saja, bahkan ketika ibu hamil. Tapi hati-hati, ada efek serius di balik pertengkaran pada perkembangan dan kesehatan janin di dalam rahim.

Masalah yang merupakan Penyebab Umum Perselisihan

Sebuah studi longitudinal selama 8 tahun meneliti bagaimana kualitas hubungan pasangan dan hubungannya dengan kelahiran anak pertama mereka. Hasil survei menunjukkan bahwa 70% pasangan mengalami penurunan kualitas dalam hubungan mereka setelah kelahiran anak!

Ya, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak hal yang begitu sensitif dan berisiko menjadi penyebab pertengkaran. Jika diperiksa, ada beberapa masalah yang umumnya diperdebatkan ketika Ibu hamil atau menciptakan suasana rumah tangga yang tegang, termasuk:

  • Perbedaan prioritas

Sejak hamil, perlu diakui jika prioritas berubah. Yang paling penting bagi ibu hanya soal kehamilan dan bayinya. Inilah yang membuat hal-hal lain, termasuk suami, tidak lagi memiliki porsi yang sama. Ibu juga mungkin merasa dia tidak punya cukup waktu untuk membicarakan hal lain. Sementara itu, sang suami percaya bahwa yang dilakukan ibu terlalu banyak.

Masalah perbedaan pendapat juga dapat menyebar ke bidang lain, seperti pekerjaan suami. Ketika seorang suami memiliki tuntutan pekerjaan dan terpaksa melewatkan janji penting seperti kunjungan ke dokter, perkelahian dipicu dan sangat mungkin untuk mengulang jika tidak didiskusikan dengan kepala dingin.

  • Seks

Kompromi dalam pernikahan bukan hanya masalah uang atau waktu. Kebutuhan biologis antara suami dan istri juga perlu didiskusikan dengan baik. Terutama saat hamil, ketika ibu merasa tidak lagi menarik, tetapi tidak begitu di mata Ayah.

Kembali lagi, temukan jalan tengah untuk masalah ini dengan pengiriman yang baik. Dan jika Ibu & # 39; kehamilan itu sehat tanpa hambatan, tidak perlu merasa bersalah menikmati sesi intim dengan suaminya. Karena dalam ilmu kedokteran, seks tentu tidak akan menyakiti janin, kok.

  • Keuangan

Masalah sensitif lain yang sering menjadi sumber pertengkaran antara suami dan istri adalah keuangan. Apalagi pengeluaran barang selama hamil dan nanti setelah punya anak, tidak akan lagi sama dengan ketika hanya dua saja.

Bagaimana cara mengatasinya? Tidak ada cara lain selain duduk bersama pasangan dan merencanakan anggaran bersama. Tentukan pengeluaran mana yang harus diprioritaskan dan mana yang mau dikurangi untuk kebaikan bersama. Juga, jujur ​​satu sama lain tentang pengeluaran, pendapatan, bahkan hutang.

  • Pemilihan nama bayi

Memilih nama terbaik untuk anak Anda adalah serangkaian doa dari orang tua. Tidak mengherankan, pilihan nama terasa seperti terlalu banyak tekanan pada pasangan orang tua. Belum lagi, kebiasaan atau masukan dari keluarga besar, sering mewarnai proses pemilihan nama. Hati-hati, jika ini tidak dibicarakan dengan benar, bisa jadi sumber perselisihan yang lama antara Ibu dan suaminya.

Baca juga: Selalu Merasa Cemas, Lakukan 8 Cara Ini!

Efek pertengkaran pada janin

Apa yang dirasakan ibu saat bertengkar atau bertengkar dengan suaminya? Kecemasan, kesedihan, perasaan tanpa disadari, dan berbagai perasaan negatif yang akhirnya memengaruhi janin, mulai dari perkembangan otak hingga kekebalan tubuh. Beberapa dari mereka adalah:

1. Mengganggu Perkembangan Otak Janin

Selama si Kecil dalam kandungan, ia menjalani penyempurnaan otak dan sistem saraf yang sempurna. Sayangnya, stres yang dirasakan ibu ketika berdebat dengan suaminya dapat mengintervensi proses penting ini.

Ini tidak hanya memengaruhi IQ bayi, tetapi juga kemampuannya mengelola emosi di kemudian hari. Bayi yang terkena stres tingkat tinggi selama kehamilan cenderung mengalami kecemasan dan memiliki amigdala yang lebih besar, bagian otak yang bertanggung jawab untuk mengatur respons terhadap rangsangan yang menakutkan.

2. Kelainan Bentuk Fisik

Berdebat yang menyebabkan kekerasan fisik dapat menyebabkan berat badan lahir rendah, cedera fisik, hingga pendarahan.

3. Pembentukan Sistem Kekebalan Tubuh Yang Terganggu

Peningkatan stres selama atau setelah perkelahian, juga dapat menekan sistem kekebalan janin. Ini dapat menyebabkan masalah kesehatan bagi anak Anda di masa depan.

Baca juga: 7 Mitos Menyusui yang Harus Diketahui Ibu!

4. Perkembangan Fisiologis dan Biologis terganggu

Saat marah, detak jantung dan tekanan darah otomatis meningkat. Demikian pula, adrenalin dan epinefrin, hormon yang berkontribusi meningkatkan ketegangan dan menyebabkan pembuluh darah mengerut.

Inilah yang menyebabkan reduksi oksigen ke rahim, sehingga mengganggu suplai darah janin. Kondisi ini juga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi (hipertensi), sakit kepala, dan masalah pencernaan pada ibu.

5. Memicu Depresi Pascapersalinan

Kekerasan verbal yang dialami oleh wanita selama kehamilan cenderung memiliki potensi yang lebih besar untuk menyebabkan ibu menderita gangguan mental postpartum, daripada kekerasan fisik atau seksual.

Baca juga: Kondisi Umum yang Dialami di Trimester 3 & Cara Mengatasinya

Sumber:

Tangisan Pertama. Berjuang Selama Kehamilan.

NCBI. Pengaruh Transisi ke Parenthood pada Kualitas Hubungan

Cermin Ayah Yang Berteriak pada Pasangan Hamil.

Sudah Jujur Saja, Tak Apa Mengakui Kebohongan pada Pasangan

Ada kalanya pasangan berbohong karena terpaksa menutupi hal-hal yang bisa memicu perkelahian. Tumpukan kebohongan bisa membuat pikiran terbebani. Jadi, pikirkan apakah sudah saatnya Anda mengatakan yang sebenarnya dan mengakui kebohongan yang telah ditutup-tutupi oleh pasangan Anda.

Saatnya mengatakan yang sebenarnya dan mengakui kebohongan pada pasangan Anda

ayah ibu depresi pascapersalinan

Cepat atau lambat kebenaran akan terungkap. Bisa jadi kita yang mengatakan kebenaran, orang lain, atau pasangan. Begitu juga kebenaran hal-hal yang telah ditutup-tutupi.

Hampir semua orang mengatakan ketidakjujuran. Berbohong dilakukan dalam kondisi yang dipaksa untuk reaksi yang tidak diinginkan. Dalam suatu hubungan, kebohongan menjadi alasan untuk tidak menyakiti pasangan.

Di satu sisi Anda mungkin tidak ingin melihat pasangan Anda marah, menangis, atau mengajukan berbagai pertanyaan. Tujuannya bukan untuk menyakiti pasangan itu baik, tetapi sikap ini cenderung memberikan perlindungan diri. Di sisi lain, kebohongan adalah sikap egois.

Namun, tidak apa-apa, coba persiapkan diri Anda untuk jujur ​​dengan mengakui kebohongan kepada pasangan Anda. Psychology Today mengatakan, terletak kebohongan jatuhnya kepercayaan yang telah dibangun. Dari kebohongan kecil bisa terus menjadi kebohongan besar.

Dalam artikel tersebut juga dikatakan kebohongan yang telah dibuat dapat membuat dampak negatif pada orang tersebut. Terlepas dari pikiran yang tidak ingin melukai pasangan, ada sikap defensif yang memicunya untuk memanipulasi dan mengendalikan.

mengakui kebohongan kepada pasangan

Misalnya, dalam hubungan pasangan A dan B. Akhir-akhir ini B pulang larut malam, tanpa memberi tahu A dan dihubungi sangat sulit. Secara alami, A bertanya kepada B mengapa ia larut malam. Namun, B marah dan selalu mengatakan ada pekerjaan tambahan.

Bahkan, B berbohong kepada pasangannya. Dia bermain dengan teman-temannya dan memiliki kekasih baru. Perasaan B juga dilanda kecemasan, jadi dia tidak mengatakan yang sebenarnya kepada A karena alasan takut menyakiti pasangan yang dicintainya. B meminta untuk tidak memintanya lagi, ketika dia belum mencapai rumah di atas jam tujuh malam itu dia lembur.

Ini hanya satu contoh. Mungkin Anda memiliki pengalaman berbeda. Mengakui kebohongan pada pasangan bukanlah hal yang mudah.

Pertama, Anda harus siap untuk jujur ​​dengan diri sendiri untuk sepenuhnya mengekspresikan apa yang telah ditutup-tutupi. Kedua, Anda harus siap dengan reaksi pasangan yang bisa seperti yang diharapkan atau tidak terduga.

Mengatakan kebenaran dan mengakui kebohongan pada pasangan Anda memang akan melukai perasaan mereka. Tindakan ini benar tidak peduli bagaimana reaksinya. Sementara itu, mengatakan yang sebenarnya tidak akan menyakiti perasaan pasangan Anda, tetapi kebiasaan ini menyebabkan kehancuran suatu hubungan.

Meskipun hati terpotong, jujur ​​adalah kunci untuk hubungan yang langgeng

pasangan membutuhkan diri mereka sendiri

Apa yang Anda bayangkan ketika mengatakan yang sebenarnya kepada pasangan Anda dan mengakui kebohongan yang telah terjadi? Marah, menjerit, menangis, pingsan, atau sesuatu? Tentu ada banyak hal yang mengamuk di pikiran Anda.

Namun, tidak serta-merta berbicara dengan jujur ​​membuat pasangan bereaksi seperti ini. Siapa tahu dengan mengatakannya apa adanya, ini akan membangun kepercayaan dan ikatan emosional yang lebih kuat. Ketika keduanya kuat, inilah yang diinginkan banyak pasangan ketika mereka mengatakan yang sebenarnya.

Mungkin tidak banyak orang yang sadar, banyak kebohongan bisa menciptakan skenario terburuk dalam hidup. Belum lagi jika Anda menunda mengatakan yang sebenarnya, pasangan Anda mungkin melihat kebenaran sebelum keluar dari mulut Anda.

Pilihan dan skenario ada di tangan Anda, apakah lebih baik mengakui kebohongan kepada pasangan sekarang atau mungkin ada saatnya nanti?

Ketika pasangan menemukan kebenaran kebohongan, trauma trauma bisa muncul dalam dirinya. Jika ini terjadi, sulit baginya untuk memercayai Anda lagi. Bahkan di lain waktu, ia merasa sulit untuk memercayai orang lain.

Menurut Good Therapy, mengatakan yang sebenarnya bisa menyakiti pasangan Anda. Tetapi dampaknya tidak lebih dalam ketika pasangan itu mengungkapkan kebenaran mereka sendiri yang akhirnya lebih menyakitkan.

digunakan oleh pasangan

Tidak ada yang salah dengan bersikap jujur ​​dan terus terang. Dalam jurnal Budaya, Kesehatan & Seksualitas Dinyatakan bahwa kepercayaan berkaitan erat dengan kesetiaan, kerapuhan, dan keintiman emosional. Memahami segala sesuatu dan masalah yang terjadi, dapat mendukung hubungan yang sehat.

Jujur dengan mengakui kebohongan pada pasangan bisa memberikan ruang untuk mengembalikan kepercayaan pada pasangan. Meskipun ada ketakutan, masing-masing pasangan berharap bahwa kesetiaan akan terus berlanjut setelah kebenaran terungkap. Proses membangun kepercayaan kembali tidak mudah. Kita perlu menyadari bahwa setiap tindakan akan berisiko. Pilihan ada di tangan Anda. Bersiaplah dan ketahui risiko yang mungkin terjadi.

Lebih baik menghindari berbohong sebanyak mungkin. Kejujuran adalah cara hidup, bukan hanya sikap. Menjadi jujur ​​akan membawa kenyamanan bagi diri Anda dan pasangan Anda, bahkan jika Anda harus melalui proses yang sulit.

Posting itu Jujur, Tidak apa-apa untuk Mengenali Kebohongan pada Pasangan muncul pertama kali di Hello Sehat.

Prosedur Operasi Amandel pada Anak

Ibu, tentu saja akrab dengan istilah tonsilektomi. Mengapa tindakan ini paling dekat dengan anak-anak? Dan, apakah benar setelah amandel dihilangkan, sistem kekebalan anak akan menurun? Mari kita bahas sekarang, Bu!

Mengapa amandel perlu dihilangkan?

Sebelum membahas lebih lanjut tentang, mari ketahui beberapa hal mendasar tentang amandel, atau dalam bahasa medis yang disebut amandel. Amandel atau amandel adalah 2 jaringan massa yang terletak di bagian belakang mulut, di sisi kanan dan kiri.

Amandel adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh untuk melawan kuman penyebab penyakit. Berada di bagian belakang mulut, amandel bertindak sebagai pusat pemrosesan kuman dan membantu tubuh mengenali berbagai jenis kuman, sehingga mereka dapat diperangi dengan lebih baik.

Meskipun bermanfaat, amandel masih perlu diangkat dengan operasi amandel atau pengangkatan amandel (tonsilektomi) karena beberapa pertimbangan, seperti:

  • Sedikit yang memiliki infeksi berulang, terutama radang amandel, sakit tenggorokan, atau infeksi telinga sekitar 5-6 kali setahun.
  • Sedikit mengalami kesulitan makan atau menelan karena peradangan di bagian belakang tenggorokan.
  • Sedikit tidur mendengkur dan suka berhenti bernapas dalam waktu singkat. Ini disebut apnea tidur obstruktif. Risiko sleep apnea itu sendiri sebenarnya tidak main-main. Kondisi ini dapat mengurangi kualitas tidur anak Anda, sehingga ia tidak bisa tidur nyenyak dan terbangun dengan kondisi yang kurang segar. Pada akhirnya, ini dapat menyebabkan masalah belajar, perilaku, pertumbuhan, dan jantung.
  • Sedikit yang sering terlihat bernapas melalui mulut dan memiliki bau mulut yang menyengat. Hidungnya juga terlihat seperti tersumbat.
  • Meskipun kasus ini sangat jarang, tonsilektomi diperlukan jika perdarahan atau kanker ditemukan di amandel.
Baca juga: Siap Menghadapi Normal Baru dengan Kebiasaan Makan Sehat Baru

Prosedur Operasi Amandel pada Anak

Setelah melalui pemeriksaan dokter anak dan spesialis Telinga Hidung Tenggorokan (THT), dokter akan memberi tahu Anda kapan prosedur tonsilektomi akan dilakukan. Umumnya, si kecil Anda tidak diperbolehkan minum obat satu atau dua minggu sebelum operasi. Selain itu, anak Anda harus dalam kondisi sehat 7 hari sebelum operasi.

Harap dicatat, ada dua jenis operasi amandel yang bisa dilakukan, yaitu:

  • Tonsilektomi tradisional, pengangkatan kedua amandel.
  • Tonsilektomi intrakapsular, yang mengangkat hanya amandel yang terinfeksi dan meninggalkan lapisan kecil untuk melindungi otot-otot tenggorokan di bawahnya.

Keuntungan dari jenis tonsilektomi ini adalah anak Anda dapat pulih lebih cepat, lebih sedikit rasa sakit, sehingga tidak ada kebutuhan untuk obat penghilang rasa sakit, memiliki risiko pendarahan yang lebih rendah, dan lebih mampu makan dan minum setelah prosedur. Dengan pertimbangan ini, tipe ini biasanya dipilih untuk anak-anak.

Kerugiannya, ada kemungkinan yang sangat kecil bahwa jaringan yang tersisa dapat tumbuh kembali atau menjadi terinfeksi dan memerlukan lebih banyak tonsilektomi, tetapi ini tidak umum.

Pada hari amandel akan dilakukan, Si Kecil akan diminta berpuasa terlebih dahulu. Tonsilektomi dimulai dengan pemberian anestesi umum, sehingga si kecil dapat tertidur selama operasi. Operasi akan dilakukan melalui rongga mulut, sehingga tidak akan ada sayatan di kulit dan bekas luka yang terlihat. Ibu dapat menemani anak Anda selama operasi, yang biasanya akan berlangsung selama 20-45 menit.

Pasca operasi, anak Anda dapat pulang segera setelah bangun dari anestesi, tetapi juga dapat disarankan untuk dirawat di rumah sakit. Secara umum, jika tonsilektomi dilakukan ketika anak Anda kurang dari 3 tahun dan terdeteksi menderita gangguan tidur serius, rawat inap akan direkomendasikan sehingga ia dapat menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter THT.

Baca juga: Little Picky Food? Cobalah Cara Ini untuk Mengatasinya

Setelah Tonsilektomi

Bergantung pada jenis operasi apa yang harus dilakukan, masa pemulihan tonsilitis memakan waktu sekitar 7 hari atau lebih. Selama pemulihan, ada beberapa saran yang perlu diikuti, seperti:

  • Hindari makanan yang bertekstur tajam dan keras, seperti hotcakes dan makanan bertepung.
  • Berikan banyak asupan cairan.
  • Makanan yang direkomendasikan untuk dimakan adalah bertekstur lunak, seperti puding, gelatin, es krim, sup, kentang tumbuk, bubur, dan lainnya.
  • Sedikit yang disarankan untuk banyak istirahat di rumah. Anak Anda dapat kembali ke kegiatan di luar atau pergi ke sekolah (jika Anda berada di sekolah) jika Anda dapat makan dan tidur secara normal, dan tidak memerlukan obat penghilang rasa sakit lagi.
  • Ingatkan anak Anda untuk tidak membuang ingus melalui hidung selama 2 minggu setelah operasi dan hindari kegiatan yang terlalu agresif.
  • Temui dokter Anda segera jika anak Anda batuk, muntah, demam, mengeluh bahwa tenggorokannya sakit walaupun ia telah menggunakan obat penghilang rasa sakit, mengalami kesulitan bernapas, dan telah menemukan gumpalan darah / darah dalam air liurnya. Dokter akan melakukan prosedur lain untuk menghentikan pendarahan.

Yang perlu diluruskan, tonsilektomi adalah prosedur yang perlu dilakukan jika kondisi amandel kecil dianggap mengganggu kesehatannya. Meskipun amandel adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh, ini tidak berarti bahwa operasi amandel akan mengganggu sistem kekebalan tubuh anak.

Sistem kekebalan lainnya masih akan bekerja dan melawan semua bentuk kuman yang membahayakan kesehatan. Dengan nutrisi yang baik, lingkungan yang bersih, istirahat yang cukup, dan mencuci tangan secara teratur, kesehatan bayi Anda dapat dipertahankan.

Baca juga: Ibu, jangan paksa anak Anda makan!

Sumber:

Kesehatan Anak. Operasi amandel.

Minnesota anak-anak. Operasi amandel.

Cara Membaca Informasi Label pada Kemasan Obat

Banyak orang sering menyimpan obat melawan atau obat-obatan yang dijual bebas sebagai persediaan dalam kotak P3K. Jika sewaktu-waktu sakit, cukup minum obat yang ada tanpa harus ke apotek lagi.

Obat-obatan memiliki label informasi pada paket mereka yang harus dibaca dengan benar agar tidak menimbulkan masalah. Sayangnya, beberapa orang tidak mengerti cara membaca label obat yang dijual di pasaran.

Cara membaca label informasi pada kemasan obat

cara membaca label pada obat-obatan
Sumber: Sains Jumat

Saat minum obat, Anda mungkin tahu fungsinya dan hanya memperhatikan dosis apa yang harus diminum. Padahal, membaca semua informasi yang terdapat pada paket itu penting untuk menghindari berbagai masalah yang akan membuat rasa sakitnya tidak membaik.

Dengan membaca label obat, Anda dapat menghindari risiko reaksi alergi terhadap salah satu bahan yang digunakan dalam obat. Label juga memberikan informasi tentang penggunaan obat lain bersama dengan obat ini dan efek sampingnya.

Agar tidak membuat kesalahan langkah, berikut adalah berbagai informasi yang biasanya ada pada label kemasan obat dan Anda harus membacanya sebelum mengambilnya.

1. Bahan aktif

Bahan aktif adalah daftar senyawa kimia dalam obat yang berfungsi meredakan gejala. Misalnya, bahan aktif yang ada dalam obat-obatan dapat meredakan sakit kepala, mengurangi demam, atau meringankan gejala sakit perut. Satu produk dapat memiliki lebih dari satu bahan aktif.

Mengetahui bahan aktif yang terkandung dalam obat-obatan penting ketika Anda juga menjalani perawatan dengan obat lain. Ini untuk memastikan bahwa Anda tidak menggunakan lebih dari satu jenis obat dengan bahan aktif yang sama agar tidak membahayakan kesehatan hati.

2. Penggunaan

gejala kanker usus besar

Penggunaan atau sering dimasukkan dalam label obat sebagai indikasi mengacu pada efek yang merupakan fungsi obat.

Pada bagian ini, tertulis gejala penyakit yang dapat diobati dengan produk ini. Setelah mengetahui penggunaannya, selesaikan mengonsumsi obat dengan gejala yang Anda rasakan.

3. Peringatan

Bagian selanjutnya dari label informasi obat yang harus Anda baca adalah peringatan. Bahan aktif dalam obat juga memiliki efek samping atau situasi tertentu yang harus dihindari sebelum Anda minum obat ini.

Misalnya, obat-obatan tidak dianjurkan untuk diminum sebelum Anda mengemudi atau obat-obatan terlarang untuk wanita hamil. Bagian peringatan juga memberi tahu Anda jika Anda memerlukan konsultasi dokter untuk mengambilnya.

4. Instruksi

Bagian ini berisi instruksi tentang cara menggunakan obat yang aman, termasuk berapa banyak obat yang harus diminum sekaligus, seberapa sering Anda harus meminumnya, dan kapan harus minum obat. Biasanya ada perbedaan dalam dosis dan frekuensi untuk anak-anak dan orang dewasa.

Untuk obat cair, terkadang ada produk yang tidak menyediakan gelas khusus untuk minum obat. Oleh karena itu, Anda mungkin memerlukan alat seperti sendok makan, sendok teh, atau gelas ukur.

Instruksi adalah informasi obat yang penting dan harus diikuti agar sesuai dengan dosis. Obat-obatan biasanya tidak termasuk peringatan tentang overdosis, sehingga diharapkan Anda benar-benar minum obat sesuai petunjuk untuk menghindari overdosis dari obat-obatan medis.

5. Informasi lain pada label obat

Informasi lain yang terkandung pada label berisi catatan yang harus diketahui tentang obat seperti metode dan area penyimpanan. Beberapa bahan aktif dalam obat tidak tahan panas, dingin, atau kelembaban yang berlebihan.

Agar fungsi obat tidak rusak, simpan obat sesuai dengan informasi tertulis. Biasanya suhu penyimpanan yang disarankan dan peringatan untuk menjauhkan obat dari anak-anak juga ada di bagian ini.

6. Bahan tidak aktif

pil dan kapsul batuk

Bahan aktif yang dimaksudkan adalah bahan dalam pembuatan obat yang tidak berfungsi sebagai obat untuk gejala, tetapi hanya sebagai suplemen.

Bahan-bahan yang termasuk dalam bagian ini termasuk zat untuk penyedap, kapsul untuk mengikat bahan aktif dalam bentuk pil, dan pewarna makanan.

Biasanya bahan-bahan ini tidak berpengaruh pada pasien. Namun, Anda masih perlu tahu apakah Anda alergi terhadap bahan-bahan tertentu agar aman saat meminumnya.

Beberapa orang sering ragu untuk menggunakan narkoba karena mereka tidak yakin efeknya terhadap tubuh. Untungnya, produk bebas juga menyertakan nomor telepon pabrik tempat Anda dapat menghubungi jika Anda memiliki pertanyaan tentang obat-obatan.

Jika Anda memiliki kondisi seperti penyakit, alergi, atau sedang hamil, tanyakan kepada dokter Anda sebelum memilih obat yang akan diambil. Tidak perlu minum obat jika tujuannya bukan untuk mengobati gejalanya.

Posting Cara Membaca Informasi Label pada kemasan Obat muncul pertama kali di Hello Sehat.

Bagaimana Cara Mencegah atau Mengatasi Anemia pada Ibu Menyusui?

Anemia yang rentan terjadi pada wanita yang sedang hamil. Tubuh ibu akan membutuhkan lebih banyak darah untuk mendukung perkembangan janin sehingga ibu membutuhkan lebih banyak nutrisi, termasuk zat besi. Jika nutrisi yang dibutuhkan tidak terpenuhi, kemungkinan besar anemia akan terjadi. Tidak hanya selama kehamilan, anemia juga dapat terjadi ketika ibu melahirkan atau selama menyusui. Lalu bagaimana cara mencegah dan mengatasi anemia saat menyusui?

Bisakah Anda menyusui meskipun mengalami anemia?

Kebanyakan anemia terjadi sejak ibu masih mengandung bayi, tetapi kondisinya dapat berlanjut sampai menyusui atau setelah melahirkan. Jangan khawatir, ibu masih diperbolehkan memberikan ASI karena menyusui adalah proses vital untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak.

Untuk mengatasi anemia saat menyusui, ibu perlu berkonsultasi dengan dokter dan apakah akan mengambil suplemen zat besi. Suplemen zat besi aman digunakan bahkan saat menyusui. Rekomendasi asupan zat besi untuk ibu menyusui perlu ekstra 9 miligram selain rekomendasi untuk wanita seusianya (26 mg) setiap hari.

Selain karena kekurangan besi, ibu menyusui dapat menderita anemia karena banyak kehilangan darah saat melahirkan. Oleh karena itu, kadar hemoglobin darah dapat diperiksa. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa parah anemia yang diderita ibu dan apakah ia membutuhkan suplemen zat besi untuk mengobati anemia saat menyusui.

Cegah dan atasi anemia saat menyusui

Anemia adalah masalah kesehatan mendesak yang harus diwaspadai, terutama di kalangan wanita usia reproduksi. Tidak hanya di Indonesia, bahkan di beberapa negara berpenghasilan rendah hingga menengah, misalnya India dan Vietnam juga mengalami masalah yang sama.

Secara umum, anemia terjadi karena kurangnya asupan zat besi. Wanita hamil membutuhkan zat besi tidak hanya untuk kebutuhan mereka sendiri, tetapi juga untuk si kecil di dalam rahim. Anemia yang disebabkan oleh defisiensi besi atau defisiensi juga dapat terjadi setelah melahirkan.

Konsekuensi anemia selama periode postpartum (enam minggu setelah kelahiran anak) dapat menjadi serius dan menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang untuk ibu dan anak. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Jurnal Genetika AnakSalah satu efek anemia yang terjadi pada wanita hamil adalah peningkatan risiko penyakit kardiovaskular pada anak-anak.

Sebuah studi yang diterbitkan oleh Jurnal Ilmu Nutrisi & Makanan menunjukkan, dari 327 ibu menyusui, 28,7% ibu mengalami anemia. Dari data ini dapat dilihat bagaimana kasus anemia yang cukup tinggi terjadi. Jadi pencegahan perlu dilakukan.

WHO merekomendasikan tambahan asupan zat besi dan asam folat suplemen sebagai tindakan pencegahan. Suplemen dapat mengurangi risiko anemia dengan meningkatkan asupan zat besi dari ibu menyusui.

Suplementasi oral dalam bentuk suplemen zat besi atau yang juga mengandung asam folat diperbolehkan diberikan kepada ibu dengan jangka waktu 6 hingga 12 minggu setelah melahirkan untuk mengurangi risiko anemia.

Mencegah anemia saat menyusui dengan asupan makanan

Sumber zat besi dan asam folat sebenarnya dapat ditemukan dalam makanan. Ibu sebaiknya lebih sering mengonsumsi makanan berikut sebagai upaya mencegah anemia saat menyusui.

  • Makanan kaya zat besi. Jenis zat besi yang mudah diserap oleh tubuh adalah dia me dan hadir dalam makanan seperti daging merah dan putih, ikan, telur, kacang-kacangan dan sereal yang diperkaya (seperti oatmeal yang diperkaya zat besi). Jenis besi lainnya adalah non-heme ditemukan dalam sayuran.
  • Makanan kaya asam folat. Misalnya, kacang-kacangan, sayuran hijau dan jus jeruk.
  • Makanan yang kaya akan vitamin C. Vitamin C berperan dalam membantu memfasilitasi penyerapan zat besi. Contoh makanan yang kaya vitamin C adalah buah jeruk (jeruk, lemon, dll.) Dan sayuran mentah atau tidak diolah.

Mencegah anemia sebenarnya tidak sulit karena Anda hanya perlu mengkonsumsinya makanan yang tinggi zat besi dan asam folat. Namun, terkadang ibu kurang memperhatikan hal ini. Untuk alasan ini, agar kebutuhan zat besi ibu dan anak (untuk mendapatkan asupan zat besi dari ASI) terpenuhi, lebih baik untuk selalu mempertahankan diet dan jika perlu memenuhi kebutuhan gizi melalui suplemen.

Ibu dapat memilih suplemen penambah zat besi yang mengandung lipofer, yang merupakan bentuk zat besi yang lebih mudah diserap oleh tubuh. Selain itu, suplemen zat besi juga umumnya mengandung nutrisi lain seperti vitamin B kompleks dan asam folat untuk membantu menjaga metabolisme tubuh dan pembentukan sel darah merah selama kehamilan.

Posting Bagaimana mencegah atau mengatasi anemia pada ibu menyusui? muncul pertama kali di Hello Sehat.

Apa Saja Sih Masalah Kulit pada Bayi Baru Lahir?

Kondisi kulit bukan hanya masalah kecantikan, tetapi lebih dari itu. Menurut Dr. Mark Koh Jean Aan dari Layanan Dermatologi Anak, KK Wanita dan Rumah Sakit Anak (KKH), kulit adalah organ tubuh terbesar dan sangat berpengaruh pada kesehatan sistem organ lainnya. .

Itu benar, Bu! Kulit adalah pelindung yang paling penting, untuk mencegah tubuh kehilangan banyak cairan dan mineral. Organ terluar manusia dapat melindungi tubuh dari infeksi sambil mencegah penyerapan zat beracun di lingkungan sekitarnya. Kulit juga membantu mengatur panas tubuh.

Masalah Kulit pada Bayi Baru Lahir

Kondisi kulit bayi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti suhu (panas dan dingin), jamur, bakteri, air liur, alergi, atau kontak yang lama dengan tisu basah. Untungnya, sebagian besar masalah kulit yang dialami bayi baru lahir bersifat sementara dan akan hilang seiring waktu. Tetapi dalam beberapa kasus serius, penggunaan krim, minyak, steroid topikal, dan obat oral dapat membantu mengatasinya. Lalu, apa masalah kulit pada bayi baru lahir yang bisa mengiritasi si kecil Anda?

Biang keringat

Panas berduri, juga dikenal sebagai miliaria, adalah jenis ruam yang disebabkan oleh kelenjar keringat pada bayi yang belum berkembang dengan baik, membuat mereka mudah tersumbat. Mudah menyerang bayi yang tinggal di daerah panas dan lembab, seperti di Indonesia. "Alih-alih menguap, keringat akan terperangkap di bawah kulit, mengakibatkan peradangan dan ruam," kata Dr. Koh.

Selain itu, masalah kulit ini juga bisa terjadi jika anak Anda mengalami demam tinggi, menggunakan krim atau minyak yang bisa menutup kelenjar keringatnya, dan mengenakan pakaian yang terlalu tebal, membuatnya panas, dan tidak menyerap keringat.

Karakteristik biang keringat adalah bintik-bintik kemerahan. Rata-rata akan terjadi di area tubuh yang sering berkeringat, seperti di leher, area yang tertutup popok, lipatan kulit, dan ketiak.

Baca juga: Waspadai Penyakit Misterius yang Terkait dengan Covid-19, Sindrom Inflamasi Multisistem pada Anak!

Cradle cap

Cradle cap (seborrheic dermatitis) sering muncul pada bulan pertama atau kedua kelahiran, dan dapat terus dialami sampai usia 4-6 bulan. Dr. Koh menjelaskan bahwa masalah kulit ini disebabkan oleh pertumbuhan jamur yang berlebihan atau ragi kulit normal, karena stimulasi hormon ibu saat bayi masih dalam kandungan.

"Dalam beberapa kasus, cradle cap bisa menjadi tanda awal dermatitis atopik atau eksim," tambahnya. Selain itu, produksi minyak di kelenjar keringat dan folikel rambut yang abnormal juga bisa menjadi penyebabnya.

Tanda-tanda masalah kulit juga disebut kerak kepala adalah munculnya sisik putih hingga kuning di kepala dan kulit terasa berminyak. Bisa juga disertai ruam di wajah, leher, di belakang telinga, ketiak, hingga daerah selangkangan.

Jerawat bayi

Jerawat bayi atau jerawat merah muda adalah kondisi kulit yang umumnya hilang pada minggu pertama hingga beberapa bulan setelah bayi Anda lahir. Jerawat dialami oleh 20% bayi. Beberapa orang telah menyimpulkan bahwa masalahnya, juga dikenal sebagai jerawat neonatal, adalah karena bayi terpapar hormon kehamilan saat dalam kandungan dan tidak memerlukan perawatan khusus. Jerawat bayi berbeda dari jerawat infantil karena tidak memiliki komedo. Jerawat bayi memiliki gejala berupa titik-titik merah atau putih pada wajah dan tubuh anak.

Milia

Bintik putih di daerah hidung dan wajah Si Kecil ternyata punya nama, yaitu milia. Kondisi kulit ini disebabkan oleh kelenjar keringat yang tersumbat. Namun seiring waktu, ketika kelenjar keringat bayi berkembang dan terbuka, milia akan hilang dengan sendirinya.

Ruam popok

Ruam popok mengganggu 35% bayi sejak dini. Puncak dari masalah kulit ini akan terjadi pada usia 9-12 bulan. Tanda-tandanya adalah ruam atau dermatitis atopik di daerah yang tertutup popok, sehingga kulit akan terlihat kemerahan dan lembut. Bayi yang mengalami ruam popok umumnya akan rewel dan menangis ketika bokongnya dibersihkan. Selain popok lama yang belum diganti, kulit sensitif dan lecet bisa menjadi penyebab ruam popok.

Baca juga: Berlatih Jam Tidur Bayi

Eksim

Eksim atau dermatitis atopik adalah kondisi kulit paling umum yang sering dialami oleh orang dewasa dan anak-anak, termasuk bayi. Meskipun butuh berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, kondisi eksim pada sebagian besar anak akan membaik saat mereka tumbuh dewasa. Jika ditangani dengan benar, mungkin saja penderita eksim akan hidup sehat dan produktif.

Penyebab eksim belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi kulit ini merupakan reaksi kekebalan terhadap lingkungan dan dipengaruhi oleh genetika, alias turun temurun bisa terjadi dalam keluarga. Faktor-faktor yang berkontribusi dapat memicu atau memperburuk masalah eksim termasuk suhu tinggi, paparan iritan dan alergen, infeksi virus, stres, dan keringat.

Tanda-tanda eksim dalam bentuk bercak merah dan kulit kasar dan kering. Ini sering muncul di pipi, lipatan tangan dan kaki, dan perut. Sekilas, eksim dan tutup dudukan terlihat serupa. Namun, tutup dudukan tidak terlalu merah dan bersisik, dan hanya muncul di kulit kepala. Dalam waktu 8 bulan, biasanya tutup dudukan juga akan hilang.

Rawat Kulit Si Kecil Anda Setiap Saat!

Bayi yang baru lahir memang membutuhkan perawatan khusus, tidak terkecuali untuk kulit yang masih sangat lembut dan sensitif. Untuk melindungi kulit bayi Anda dari ruam dan kondisi lainnya, Ibu harus sangat sabar dan memperhatikan beberapa hal. Pertama, ibu sebaiknya memilih pakaian yang tidak terlalu tebal dan bisa menyerap keringat untuk bayi Anda.

Kedua, Ibu harus memperhatikan suhu air saat memandikan Si Kecil. Karena suhu airnya terlalu tinggi untuk menghilangkan minyak alami yang ada di kulit Si Kecil. Suhu air ideal adalah sekitar 36-38 ° C dan waktu mandi hanya sekitar 5-10 menit.

Ketiga, Ibu perlu memilih produk yang cocok untuk kulit si kecil. Dibuat sejak 1931, Sudocrem telah terbukti secara klinis dapat membantu melembutkan, melembabkan, dan melindungi kulit bayi. Sudah melalui tes dermatologis, produk ini pasti mengandung bahan-bahan yang hipoalergenik, sehingga baik untuk kulit bayi.

Sudocrem mengandung emolien, yang dapat melembutkan dan melembabkan kulit bayi, serta bahan-bahan untuk melindungi kulit bayi dari kemerahan, menjaga kondisi kulit yang alami dan sehat, dan merupakan bahan yang menenangkan, sehingga nyaman di kulit bayi. Produk yang satu ini juga tahan air, yang berguna untuk membentuk lapisan pelindung untuk kulit si kecil.

Sebelumnya, Sudocrem meluncurkan produk Krim Perawatan Bayi Sudocrem pada 2016. Produk yang terdiri dari 2 ukuran, yaitu 60 gram dan 125 gram, berguna untuk melembutkan, melembabkan, dan melindungi area kulit yang tertutup popok. Jadi, si kecil bisa bebas dari masalah ruam popok.

Dan untuk meningkatkan perlindungan bagi kulit lembut bayi, Sudocrem meluncurkan varian produk terbarunya, yaitu Sudocrem Skin Care Cream, pada bulan Desember 2019. Produk ini memiliki banyak kegunaan, yaitu untuk melembutkan, melembabkan, dan melindungi bayi. ; kulit dari kemerahan, seperti ruam pipi, sekaligus melindungi dari gejala kemerahan pada biang keringat, gatal, gigitan nyamuk, dan luka ringan.

Krim Perawatan Kulit Sudocrem adalah 30 gram dan terdiri dari Aqua, Paraffinum liquidum, Seng Oksida, Parafin, Lanolin, Cera microcristalina, Sorbitan sesquioleate, Benzyl benzoate, Cera alba, Benzyl alkohol, Linalyl acetate, Propylene glycol, Benzyl cinnamate, Lavender oil, Citricitan asam, dan BHA.

Ibu bisa mengoleskannya pada lipatan pipi, leher, tangan dan kaki, atau yang lainnya, lebih tipis sesuai kebutuhan. Kulit bayi Anda selalu terlindungi setiap saat! (KAMI)

Baca juga: Ibu, Berikut adalah 5 Jenis Vaksin yang Dicakup oleh BPJS Kesehatan

Sumber

Singhealth: Perawatan untuk Ruam, Eksim & Kondisi Kulit Bayi Lainnya

WebMD: Kulit dan Ruam Bayi Baru Lahir Anda

WebMD: Apakah Bayi Saya Mengidap Eksim?

Mayoclinic: Ruam popok

Healthline: Jerawat Bayi: Penyebab, Perawatan, dan Banyak Lagi

Scroll to top