sewa ambulance

Anak

Aman Beraktivitas di Luar Rumah bagi Anak di Masa Pandemi

Salah satu hal yang identik dengan pandemi ini adalah ketika banyak aktivitas berpindah ke rumah. Anak-anak yang masih bersekolah, bahkan harus merubah bentuk pengajaran ke sekolah melalui metode on line. Untuk beberapa anak, ini sangat membosankan.

Belum lagi, jika ada kondisi tertentu yang mengharuskan anak tidak boleh ditinggal di rumah. Misalnya, karena tidak ada asisten rumah tangga, maka orang tua harus mengantar anaknya ke bank, pasar, atau minimarket. Kondisi seperti ini dapat terjadi bahkan pada orang tua yang masih memiliki keistimewaan Bekerja dari rumah (WFH).

Lantas, bagaimana Anda berharap anak-anak bisa beraktivitas di luar rumah dengan aman selama pandemi ini?

Baca juga: Dampak Jarak Fisik terhadap Kesehatan Mental, Siapa Yang Paling Berisiko?

Aktivitas aman di luar rumah

Pertama-tama, mari kita berpegang pada prinsip bahwa perlindungan terbaik yang dapat diberikan kepada anak untuk mencegah terpapar COVID-19 adalah tetap di rumah. Anak saya, misalnya, karena sejak Maret hingga sekarang dia benar-benar di rumah, bahkan tidak masuk angin. Ya, namanya belum pernah bertemu orang lain selain orang tua, bukan?

Ketika orang tua telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat sebelum memasuki rumah, maka pada saat yang sama anak-anak mereka akan lebih terlindungi. Jika anak sangat bosan di dalam rumah dan ingin bermain, atau ada kondisi yang membuat anak harus dibawa keluar rumah, mari simak beberapa hal berikut ini.

1. Hindari Keramaian

Sudah ada banyak bukti bahwa anak-anak terinfeksi COVID-19. Jika di awal disebutkan bahwa COVID-19 hanya parah pada orang dengan penyakit penyerta, ternyata tidak selalu demikian. Jadi, sangat penting bagi orang tua untuk memastikan anak-anak mereka menjauhi potensi infeksi. Salah satunya adalah kerumunan.

Jadi, jika harus ke pasar atau tempat lain yang identik dengan keramaian, pastikan selalu ada jarak yang cukup dengan orang lain. Kalau harus ke bank misalnya, biasanya orang tua yang membawa anaknya akan lebih mudah aksesnya, kok.

Baca juga: Bunda, berikut tips menjelaskan tentang Coronavirus dan social distancing untuk Si Kecil

2. Selalu ditemani

Namanya anak kecil, apalagi kalo udah lama di rumah pasti penasaran sama dunia luar. Anak laki-laki saya, misalnya, sangat bosan di rumah sehingga setiap sore dia berkeliling kompleks untuk mencari kucing. Nah, yang penting dalam posisi ini adalah anak selalu didampingi agar tidak sembarangan memegang benda di luar rumah dan orang tua selalu bisa menjauhkan anak dari orang lain, termasuk orang lain yang terlihat sakit atau tidak & # 39; t memakai topeng.

Saat didampingi, anak juga selalu diawasi agar tidak sembarangan menyentuh mulut, mata atau hidung sendiri. Ditambah lagi, orang tua selalu bisa membawa pembersih tangan sering mencuci tangan anak.

3. Gunakan masker dan / atau Pelindung wajah

Khusus untuk anak di atas usia 2 tahun, penggunaan masker sangat dianjurkan. Sedangkan untuk anak di bawah 2 tahun, sebaiknya menggunakan stroller dengan penutup. Jika anak berusia 2 tahun, umumnya pernapasannya sudah cukup matang jika harus memakai masker.

Ada banyak topeng anak yang di jual pasar? Orang tua sebaiknya memiliki kain masker yang cukup untuk anak agar selalu bisa mengganti masker pada jangka waktu tertentu karena masker kain hanya bisa digunakan maksimal 4 jam.

Setelah itu, proteksi tidak lagi optimal. Apalagi yang memakainya adalah anak-anak dengan kecenderungan memegang topeng, sehingga umurnya semakin pendek.

Baca juga: Pelindung Wajah Lebih Efektif dari Masker?

3. Selalu Bersihkan Diri Setelah Pulang Pulang

Satu hal yang paling penting adalah setelah keluar rumah, terutama yang tidak memiliki resiko jarak fisik, selalu bersih-bersih. Umumnya pakaian yang digunakan dari luar harus diganti dan sebaiknya segera mandi sampai bersih.

Persis sama dengan orang tuanya. Mengingat rumah merupakan tempat teraman selama ini, sebaiknya dijaga kebersihannya. Salah satunya adalah segera membersihkan diri sebelum masuk ke dalam rumah.

Selalu menganggap diri kita membawa virus tersebut pola pikir terbaik sejauh ini. Dengan begitu, kita akan sangat menjaga tingkah laku kita, baik menggunakan masker, menjaga jarak, membersihkan diri termasuk juga rajin menjaga daya tahan tubuh dengan makanan bergizi, vitamin yang cukup, dan olahraga. Salam sehat!

Baca juga: Kebiasaan Hidup Bersih Harus Menjadi Normal Pasca Pandemi Baru

Tips Mengajarkan Pendidikan Seks pada Anak sesuai Usia

Memasuki usia 1 tahun, kecerdasan si Kecil pasti bertambah banyak ya, Mums. Tak hanya jumlah ocehannya, namun juga kemampuannya untuk memahami hal di sekitarnya. Namun, terlalu cepatkah untuk mengenalkannya pendidikan seks di usia ini? Dan jika tidak, mana dulu yang bisa dikenalkan padanya? Yuk, kupas di sini, Mums.

Memberikan Pendidikan Seks untuk si Kecil, Mulai dari Mana?

Jika mengingat masa kecil kita dulu, mengucapkan kata “seks” saja sudah sangat tabu, ya, Mums. Belum lagi, media informasi digital tak seperti saat ini yang sangat mudah diakses. Tak heran, masa lalu kita sebagai anak kecil yang besar di tahun ‘80 hingga ‘90-an, sangat jauh dari pendidikan seks yang layak dan transparan.

Kini, keadaannya sangat berbeda. Para ahli justru menyarankan orang tua untuk mengenalkan pada pendidikan seks di usia dini, bahkan sebelum anak bisa bicara. Ya, ilmu yang satu ini memang tak mudah untuk dijelaskan, dan pastinya terasa canggung atau jengah. Namun, ada prinsip yang perlu selalu diingat: jangan biarkan rasa canggung itu berkuasa. Karena, ada misi yang lebih penting daripada rasa jengah kita, yaitu jangan sampai si Kecil mendapatkan ilmu soal seksualitasnya dari orang atau sumber lain yang belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Bagaimana jika orang tua kehabisan cara untuk menjelaskan? Saran dari para ahli adalah tidak apa-apa untuk mengakui bahwa Mums tidak memiliki jawaban untuk semua pertanyaannya. Dan, tepat sebelum Mums mencoba menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan seks pada si Kecil, cobalah ajukan pertanyaan klarifikasi seperti, “Adek dengar dari mana kata itu?”. Hal ini dimaksudkan agar Mums bisa memberikan respons yang sesuai.

Lalu, harus mulai dari mana untuk memberikan pendidikan seks dini pada anak? Walau anak-anak mulai bisa membedakan jenis kelamin dan genitalia di usia tiga tahun, para ahli sepakat bahwa mengenalkan alat kelaminnya dalam kegiatan sehari-hari, bisa menjadi langkah awalnya. Dan ingat, gunakanlah penamaan yang akurat, hindari menggunakan istilah eufemisme, seperti “burung”, “huha”, “bunga”, dan panggilan “halus” lainnya.

“Penting untuk menggunakan bahasa yang akurat, yaitu penis dan vagina, mulai dari hari pertama orang tua mengenalkan genitalia pada anak. Tujuannya adalah untuk membuka saluran komunikasi dengan cara yang jujur ​​dan terus terang, serta untuk menekankan bahwa tidak apa-apa jika si Kecil ingin membicarakan tubuhnya. Penamaan genitalia yang benar juga bermanfaat untuk mengidentifikasi anatomi seksual tertentu. Jika misalnya si Kecil mengalami masalah kesehatan atau cedera pada organ intimnya, ia dapat memberi tahu orang tuanya dengan jelas,” papar Stephanie Mitelman, seorang pendidik seksualitas bersertifikat dari Universitas McGill and Concordia universities di Montreal, Kanada.

Baca juga: Awas, Mencabut Gigi Si Kecil Tanpa Bantuan Dokter Bisa Berbahaya!

Tahap Pendidikan Seksual Sesuai Usia

1. Usia <24 bulan

Berbicara tentang seksualitas sama halnya seperti pemberian stimulasi. Lakukanlah secara bertahap sesuai usianya. Untuk usia 2 tahun pertama, memang tak banyak yang bisa Mums lakukan. Namun, di sinilah fase pentingnya karena menjadi langkah awal untuk mengenali bagian tubuh privatnya. Beberapa hal yang bisa Mums lakukan adalah:

  • Mengenalkan bagian tubuh privatnya dengan nama akurat.
  • Tak apa bila si Kecil ingin menyentuh area privatnya, seperti saat mandi atau berganti popok.
  • Mulai mengenalkan bahwa ada dua jenis kelamin yang berbeda. Anak laki-laki memiliki penis, anak perempuan memiliki vagina.
  • Ceritakan tentang fungsi dari bagian tubuh manusia, termasuk yang berhubungan dengan organ intimnya. Misal, dari mana datangnya urine, kenapa BAB dilakukan melalui area bokong, dan lain sebagainya.
  • Mengenalkan rasa risih dan malu ketika si Kecil tidak mengenakan atasan atau bawahan. Konsisten ingatkan bahwa ia boleh tidak mengenakan pakaian hanya di dalam kamar, bukan di tempat umum atau ketika ada orang asing.

2. Usia 2-5 tahun

Seiring dengan perkembangan kecerdasan serta cakupan sosialnya, maka pendidikan seks untuk anak di rentang usia ini sudah makin beragam. Beberapa hal penting yang perlu Mums ajarkan adalah:

  • Menyebutkan dengan benar bagian tubuh beserta fungsinya.
  • Jelaskan bahwa alat kelamin anak laki-laki dan perempuan memang berbeda, namun juga memiliki bagian yang sama seperti bokong, puting susu, dada, tangan, hidung, dan lain-lain.
  • Setiap orang diciptakan dengan bentuk yang unik, sehingga ia tak perlu malu atau berkecil hati jika penampilannya tidak seperti teman-temannya.
  • Ajarkan bahwa ada beberapa bagian tubuh sama sekali tidak boleh dilihat dan disentuh oleh siapa pun, kecuali orang tua, atau pengasuh yang sudah dipercayakan oleh orang tuanya, atau dokter di rumah sakit ketika ia sakit.
  • Si Kecil punya hak untuk menolak dipeluk, dicium, atau disentuh, bahkan oleh orang tuanya sendiri.

Baca juga: Apakah Pemanis Buatan Aman untuk Anak?

  • Menyentuh area privatnya boleh saja, namun berikan pemahaman bahwa ada batasan untuk melakukan itu. Misal, boleh menyentuh penis ketika akan buang air kecil di kamar mandi.
  • Bisa saja suatu hari Mums akan melihat atau memergoki si Kecil bermain “dokter-dokteran” dengan teman seusianya untuk saling memperlihatkan atau menyentuh area privatnya. Jika hal itu benar terjadi, usahakan tetap tenang, sela kegiatan mereka dengan cara yang baik, dan alihkan aktivitas tersebut ke hal yang lain. Di saat kondisi sudah terkendali, coba jelaskan bahwa permainan tersebut kurang pantas dan ada aturan tentang menyentuh atau memperlihatkan area privatnya.
  • Pertanyaan tentang dari mana datangnya bayi umumnya akan menjadi topik yang membuat si Kecil penasaran. Alih-alih membohonginya dengan cerita khayalan, jelaskan singkat dengan jujur. Misal: anak bayi merupakan pemberian Tuhan yang dititipkan di dalam perut ibunya, lalu dilahirkan ke dunia.
  • Rasa penasaran si Kecil tentang lawan jenis akan berkembang ke hubungan antarmanusia, seperti hubungan Mums dan Dads. Jika ia bertanya mengapa ayah dan ibunya menikah, Mums bisa menjelaskan bahwa hanya laki-laki dan perempuan dewasa yang boleh menikah dan memiliki anak.
  • Beri pemahaman pada si Kecil untuk tidak merahasiakan hal-hal yang berhubungan dengan fisik dan perasaannya. Katakan bahwa rahasia hanya untuk menyembunyikan kejutan atau hadiah.
Baca juga: Ini Perbedaan antara Anak Introvert dan Pemalu

Sumber:

About Kids health. Children’s Sexuality.

Today’s Parent. How to Talk to Kids about Sex.

Hey Sigmund.Guide to Sex Education.

Today’s Parent. What Kids Should Call Their Private Parts?

Kenali Tipe dan Cara Mendidik Anak yang Tepat

Setiap anak jelas berbeda. Cara mendidiknya juga, tergantung usia, kepribadian, minat, bakat, dan kebutuhan. Kenali jenis dan cara untuk mendidik anak dengan benar sehingga si kecil Anda dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, Bu!

Kunci Mendidik Anak dengan Benar

Sebelumnya, Mums and Dads harus memahami 3 hal paling mendasar tentang mendidik anak, yaitu:

  • Berikan instruksi yang jelas dan tepat.
  • Berikan contoh yang bagus.
  • Bersabarlah dan ingin melakukan semuanya secara bertahap.

Untuk mengembangkan kemampuan anak, semuanya membutuhkan waktu dan kesabaran. Namun, jika Ibu dan Ayah merasa bahwa anak Anda mungkin memiliki masalah dengan gangguan perilaku, segera kunjungi dokter anak untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Baca juga: Selain Menyenangkan, Ada Banyak Manfaat Mendongeng untuk Anak-anak

Didik Anak-Anak Melalui Metode Elling Telling ' (Memberi tahu)

Metode ini digunakan jika ibu ingin memberikan instruksi kepada si kecil. Jika dia tipe pendiam dan bisa fokus pada satu hal untuk waktu yang lama, metode ini mungkin lebih cocok untuknya.

Agar anak Anda segera memahami tujuan yang disampaikan ibu, berikut adalah langkah-langkah yang harus dilakukan:

  • Berikan instruksi hanya ketika dia memperhatikan. Panggil namanya dan undang dia untuk melihat Ibu ketika diundang untuk berbicara.
  • Meskipun tidak umum di keluarga Asia, tidak ada salahnya memposisikan diri Anda setinggi tubuh Si Kecil Anda. Misalnya, ibu dapat berbicara sambil duduk atau berjongkok di depan si kecil yang sedang berdiri. Selain tidak akan membuat lehernya sakit karena dia harus mendongak, sosok Ibu tidak akan terlalu menyeramkan baginya.
  • Matikan TV dan singkirkan semua perangkat terlebih dahulu.
  • Gunakan kalimat yang pendek dan sederhana sehingga dia bisa cepat mengerti. Minta dulu untuk memeriksa pemahaman anak Anda. Jika ia masih tampak bingung, ulangi instruksi Ibu secara perlahan.
  • Gunakan suara yang jelas dan tenang.
  • Jika perlu, tambahkan gerakan tangan untuk memodelkan apa yang ingin dilakukan ibu Anda.
  • Lambat laun, berikan instruksi yang kurang detail ketika dia mulai lebih memahami apa yang diminta ibu.
  • Ibu dapat memberikan contoh tambahan. Misalnya, ajari anak Anda cara mencuci tangan dengan benar melalui buku bergambar.

Bagaimana jika anak itu tidak mau menuruti Ibu? Penyebabnya bisa:

  • Anak itu masih tidak mengerti instruksi yang diberikan ibu.
  • Anak tidak memiliki kemampuan untuk melakukan permintaan ibu.
  • Penyebab lain, seperti kebosanan, tidak suasana hati, merajuk, dan lainnya.

Agar anak Anda tidak merasa diperintahkan, beragam dengan permintaan bantuan atau undangan untuk melakukan ini bersama. Jika dia dapat melakukan Mums & # 39; minta, jangan lupa untuk memuji dia dan berterima kasih padanya.

Didik Anak-Anak Melalui Metode ‘Menampilkan’ (Menunjukkan)

Banyak yang mengatakan metode ini paling efektif untuk mengajar anak-anak balita. Mereka masih lebih mengandalkan indera penglihatan. Karena itu, mereka dianggap sebagai peniru ulung, terutama ketika mereka melihat orang dewasa di sekitar mereka berperilaku.

Ibu dan Ayah bisa membuat si kecil melakukan sesuatu dengan memberi contoh. Misalnya, cara merapikan mainan atau melempar bola saat bermain. Dengan memodelkannya beberapa kali, anak-anak akan dengan mudah mengingat bagaimana melakukannya.

Tidak hanya mencontohkan gerakan tubuh, Ibu juga dapat menambahkan nada suara dan ekspresi untuk meningkatkan keterampilan sosialnya. Misalnya, mengangguk ketika Anda setuju, melihat wajah orang lain ketika dipanggil dan diundang untuk mengobrol, untuk tersenyum.

Jika si kecil Anda diam ketika diberi sesuatu yang baik, Ibu bisa memberikan contoh cara untuk berterima kasih. Misalnya ketika dia diberi mainan oleh bibinya, Ibu bisa mengatakan, "Terima kasih, Bibi untuk mainannya. Ayo, katakan itu pada Bibi, Dek. "

Cara mendidik anak-anak dengan metode ini adalah dengan langkah-langkah berikut:

  • Pastikan anak-anak memperhatikan Ibu.
  • Mulailah dengan mengajak anak Anda untuk melihat contoh terlebih dahulu. Kemudian secara bertahap, dorong anak-anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini.
  • Setiap langkah, Ibu dapat berkata, "Begini caranya, Dek."
  • Beri anak kesempatan untuk mencoba meniru apa yang dicontohkan ibu.
Baca juga: Game ini, Bisa Mempertajam IQ Kecil Anda, lho!

Didik Anak-Anak Secara Bertahap

Tentu saja ada juga tugas yang cukup sulit dan kompleks. Selain menyesuaikan dengan usia anak, jangan lupa membaginya menjadi langkah-langkah kecil. Jika dia kewalahan dan lupa, Ibu dan Ayah harus bersabar, ya. Namanya juga dia sedang belajar.

Ajari anak Anda secara bertahap. Jika dia telah berhasil pada langkah pertama, maka perkenalkan langkah selanjutnya. Misalnya, Ibu ingin Little mulai belajar mengenakan pakaiannya sendiri. Ibu dapat mencoba langkah-langkah di bawah ini:

  • Dorong anak Anda untuk memilih pakaian yang dipilih ibu sebelum mandi.
  • Setelah mandi dan menjemur, ajari dia untuk memakai pakaian dalam terlebih dahulu.
  • Setelah itu, minta dia menggunakan bawahan dulu. Jika pilihan celana panjang atau pendek, ia bisa melakukannya sambil duduk di tempat tidur.
  • Undang dia untuk memakai atasan. Jika pilihannya adalah kemeja, ajari dia untuk meletakkan kepalanya di lubang baju sebelum meletakkan tangannya.

Sama seperti metode lain, dibutuhkan waktu dan kesabaran agar anak Anda dapat melakukan apa yang diharapkan. Jangan lupa untuk membantunya jika dia mengalami kesulitan di tengah jalan. Misalnya, tangannya tertangkap saat mencoba mengenakan kemejanya sendiri.

Baca juga: Ibu, Tip untuk Mengatasi Rasa Malu pada Anak

Bagaimana Metode Mendidik Anak Berhasil?

Metode apa untuk mendidik anak? Sebenarnya, apa pun pilihan Ibu, pastikan untuk tidak lupa menerapkan tips di bawah ini agar semuanya berjalan lebih lancar, ya!

  • Sebelum memulai, pastikan anak memiliki koordinasi, kemampuan fisik, dan kematangan perkembangan untuk mempelajari keterampilan baru. Ajari beberapa keterampilan dasar sebelum mengerjakan keterampilan yang lebih rumit.
  • Pertimbangkan waktu dan lingkungan. Anak-anak belajar lebih cepat ketika waspada dan fokus. Jadi, hindari mengajarkan keterampilan baru sebelum tidur siang atau menjelang waktu makan. Pastikan TV atau perangkat tidak dinyalakan atau tidak ada yang berpotensi mengganggu Ibu atau Si Kecil.
  • Beri anak-anak kesempatan untuk melatih keterampilan baru mereka. Semakin banyak anak belajar, semakin baik. Perlihatkan atau jelaskan langkah atau tugas itu lagi jika diperlukan.
  • Berikan pujian dan dorongan, terutama pada tahap awal pembelajaran. Pujilah anak itu ketika dia mengikuti instruksi atau melatih keterampilannya. Jangan lupa, jelaskan bagian mana yang telah ia lakukan dengan benar.
  • Bersikap halus dan tidak langsung. Misalnya, alih-alih menyalahkan secara langsung, berikan nasihat tentang apa yang dapat dilakukan Si Kecil Anda lain kali. Misalnya, undang dia untuk mendorong kotak mainannya ke tengah saat membersihkan mainan, daripada mengambil mainan satu per satu dan kemudian berjalan untuk mengembalikannya ke kotak.
  • Untuk terus mendorong anak Anda, buatlah diagram kegiatan sehari-hari dan tempelkan di dinding agar mudah dilihat. Misalnya, jika dia ingin dan berhasil membersihkan semua mainannya, beri bintang untuk kegiatan tersebut.

Kenali jenis dan cara untuk mendidik anak dengan benar, Bu. Jangan lupa, semuanya butuh proses dan kesabaran agar anak Anda bisa melakukan hal-hal dengan caranya sendiri! (KAMI)

Baca juga: Anak Anda Sering Terlambat Tidur, Apa yang Harus Saya Lakukan?

Cara Mendidik Anak-Anak dari Berbagai Negara | Saya sehat

Referensi

Membesarkan Anak-Anak: Keterampilan mengajar kepada anak-anak: berbagai pendekatan

Pojok Pendidikan: 12 Strategi untuk Memotivasi Anak Anda Belajar

Di Jepang, Kalau Memukul Anak Bisa Masuk Penjara!

Membesarkan Si Kecil tidak selalu merupakan perjalanan yang menyenangkan. Ketika ia mulai mengeksplorasi dan kecerdasannya tumbuh, perilakunya menjadi lebih beragam dan menantang. Tetapi, jangan pernah berpikir untuk menggunakan memukul untuk mendisiplinkannya, Bu. Diuji secara klinis, rasa sakit tidak hanya terbatas pada fisik, tetapi juga kesehatan mental anak-anak! Karena keseriusan masalah ini, beberapa negara, termasuk Jepang, menjatuhkan hukuman berat bagi orang tua yang memukuli anak-anak mereka, yaitu penjara.

Sulit atau Tidak, Memukul Si Kecil Anda Memukulnya

Tak perlu dikatakan, setiap orang tua akan mencintai dan mencintai anak mereka. Namun, akan ada saat-saat ketika ibu merasa frustrasi untuk mendisiplinkan si kecil dan memukul dipandang sebagai satu-satunya pilihan.

Namun, harap dicatat bahwa memukul itu tidak sepele. Di balik tepukan yang menyentuh kulit Si Kecil, pukulan itu dapat membentuk pemahaman dalam pikiran anak bahwa memukul adalah tindakan yang dapat diterima dan dia bisa menjadi contoh. Memukul mungkin menghentikan perilakunya, tetapi itu sebenarnya merusak hubungan mental dan kualitas Ibu dengannya.

Efek negatif dari memukul anak ini juga telah dianalisis dan dipublikasikan lebih lanjut Jurnal Psikologi Keluarga. Makalah ini merangkum meta-analisis dari 50 tahun penelitian yang melibatkan lebih dari 160.000 anak-anak. Hasil penelitian dengan tegas menunjukkan bahwa memukul (didefinisikan sebagai pukulan dengan tangan terbuka) memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan mental Si Kecil.

Studi ini memaparkan efek negatif dari memukul ke beberapa indeks kesehatan mental dan hasil perilaku. Beberapa dari mereka adalah:

  • Pernah mengalami gangguan kesehatan mental sejak kecil.
  • Hubungan orangtua yang buruk
  • Gangguan perilaku.
  • Jadilah agresif.
  • Sulit bersosialisasi.
  • Berperilaku negatif, seperti melanggar aturan.
  • Rendah diri.
Baca juga: Penyebab Kekerasan Orangtua Terhadap Anak Meningkat

Tidak hanya yang sudah disebutkan di atas, memukul juga berdampak pada kemampuan kognitif yang lebih rendah. Penelitian neuroscience terbaru menunjukkan bahwa anak-anak yang sering dipukuli, memiliki lebih sedikit materi abu-abu di korteks serebrum, yang mempengaruhi kinerja kognitif dan gangguan kesehatan mental. Intinya, efek negatif dari memukul tidak bercanda!

Baca juga: Muntah Kecil Tanpa Demam? Tetap Tenang, Ini Penjelasannya

Mengalahkan Anak, Orang Tua Bisa Dipenjara!

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak berusia 3-5 tahun lebih mungkin menerima pemukulan dari orang tua atau pengasuh. Selain itu, anak laki-laki juga sering dipukuli oleh orang tua mereka, terutama jika mereka menunjukkan perilaku dan temperamen yang menantang yang sulit dikendalikan. Dalam lingkungan keluarga, faktor kontekstual seperti jumlah anak, tekanan ekonomi, dan tekanan orang tua meningkatkan kemungkinan bahwa orang tua akan menggunakan hukuman fisik sebagai metode disiplin.

Melihat betapa seriusnya kasus ini, beberapa negara telah mengambil tindakan tegas untuk mencegah kekerasan fisik terhadap anak-anak, yaitu dengan menyusun undang-undang yang secara spesifik mengatur apa yang legal dan ilegal terkait dengan tindakan disipliner. Ada yang melarang hukuman fisik sama sekali, tetapi ada juga yang menetapkan batas tertentu. Bentuk legalitas hukuman fisik anak yang diterapkan bervariasi di setiap negara. Namun, ia memiliki satu benang merah, yaitu hukuman yang dimaksudkan untuk menyebabkan sakit fisik.

Secara kronologis, negara pertama yang mengeluarkan undang-undang untuk hukuman fisik anak adalah Swedia pada tahun 1979. Kemudian, secara bertahap diikuti oleh negara-negara Uni Eropa lainnya, dan diperluas ke benua lain termasuk Asia, seperti Jepang. Mulai tahun 2020, Jepang dengan jelas dan eksplisit melarang semua hukuman fisik terhadap anak-anak, yang diatur dalam Prevention of Child Abuse.

Dengan "bergabung" Jepang untuk memerangi kekerasan fisik terhadap anak-anak, negara Sakura ini menjadi negara ke-59 di dunia dan negara keempat di Asia Pasifik yang memberlakukan larangan semua hukuman fisik terhadap anak-anak.

Saya bertanya-tanya, kapan negara kita tercinta juga mengambil langkah tegas seperti ini?

Baca juga: Marah dengan si kecil Anda? Hindari 5 kalimat ini, ya!

Sumber:

Psikologi Hari Ini. Ketika Orang Tua Memukul Anak-Anak Mereka.

Asosiasi Psikologis Amerika. Kasus Menentang Memukul.

Akhiri Hukuman Korporat. Jepang.

Umur Berapakah Sebaiknya Anak Laki-laki Disunat?

Di Indonesia, jika ada pertanyaan, "Kapan waktu yang tepat bagi seorang anak untuk disunat?", Sebagian besar jawabannya adalah selama liburan sekolah. Padahal, menurut pihak medis dan psikologis belum tentu sekolah (SD atau SMP) adalah waktu yang tepat untuk menyunat. Lalu, usia berapa yang direkomendasikan untuk sunat? Mari kita simak diskusi di bawah ini.

Apa itu sunat?

Sunat, sunat, atau sunat, adalah tindakan memotong ujung atau menghilangkan bagian kulit kepala penis pria. Disunat atau tidak, anak-anak umumnya adalah tradisi yang dipengaruhi oleh kepercayaan agama dan budaya anak itu sendiri. Prosedur sunat biasanya dilakukan di rumah sakit, klinik, penyembuh tradisional atau layanan sunat di daerah sekitar Anda.

Pada 1999 American Medical Association mensurvei alasan orang tua menyunat anak-anak, dan hasilnya memang dipengaruhi oleh tradisi agama dan budaya. Ketika ditinjau pada tahun 2001, sekitar 23,5% orang tua yang disunat telah berubah karena alasan kesehatan.

Berapa usia anak yang harus disunat?

Menurut Integral Medical Centre di London, waktu yang tepat bagi anak laki-laki untuk menyunat berkisar antara 7-14 hari. Begitupun dengan beberapa agama dan budaya yang melaksanakan dekrit sunat sebagai kewajiban, misalnya dalam Islam yang merekomendasikan sunat sejak usia 1 minggu.

Apa alasan yang membuat para ahli medis merekomendasikan anak-anak yang disunat pada usia bayi? Beberapa ahli mengatakan, pada bayi baru lahir sekitar usia satu minggu, darah yang keluar saat proses sunatan masih kecil. Selain itu, saat masih bayi, pembentukan sel dan jaringan berkembang pesat. Apalagi rasa sakit yang dirasakan juga tidak terlalu berat. Pada usia bayi, risiko trauma dari proses sunat juga tidak akan mempengaruhi masa depan anak.

Sebenarnya, sunat bisa dilakukan kapan saja tergantung kesiapan orang tua dan anak. Namun, ada beberapa risiko yang mungkin dialami seorang anak jika ia baru saja disunat pada usia yang lebih tua, seperti kebutuhan untuk beberapa jahitan pada kulit penis dan risiko pendarahan saat sunat.

Tidak semua anak bisa disunat saat masih bayi

Menyunat anak laki-laki ketika mereka masih bayi juga tidak bisa dilakukan begitu saja. Kondisi bayi harus sehat, dan kondisi organ vitalnya harus dalam keadaan stabil.

Biasanya dokter jarang menyunat bayi di bawah lima tahun karena alasan medis. Tetapi, jika ada kondisi tertentu seperti infeksi kelenjar, phimosis, atau jaringan parut di kulit khatan penis bayi, maka bayi disarankan untuk menjalani sunat.

Apa manfaat khitan bagi kesehatan pria?

Meskipun proses sunat itu menyakitkan dan menegangkan, nyatanya sunat memiliki banyak manfaat. Salah satunya adalah mengurangi kejadian infeksi saluran kemih (ISK) pada pria. Bahkan, anak-anak yang tidak disunat, orang dewasa akan 10 kali lebih rentan terhadap infeksi saluran kemih daripada anak-anak yang disunat.

Manfaat khitan juga memiliki efek sebagai orang dewasa nantinya, yaitu untuk lebih mengurangi risiko kanker penis, walaupun sebenarnya penyakit ini jarang terjadi pada orang yang disunat atau tidak. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa sunat memengaruhi resistensi terhadap penyakit menular seksual seperti HIV / AIDS.

Anak-anak yang disunat juga lebih bebas dari masalah penis, seperti peradangan, infeksi, atau iritasi yang sering terjadi pada anak-anak yang tidak disunat. Sunat juga merupakan salah satu proses yang lebih mudah untuk menjaga penis tetap bersih, meskipun anak-anak yang tidak disunat juga dapat belajar cara membersihkan kulit khatan di bawah penis ketika mereka dewasa.

Posting Berapa usia anak laki-laki yang harus disunat? muncul pertama kali di Hello Sehat.

Prosedur Operasi Amandel pada Anak

Ibu, tentu saja akrab dengan istilah tonsilektomi. Mengapa tindakan ini paling dekat dengan anak-anak? Dan, apakah benar setelah amandel dihilangkan, sistem kekebalan anak akan menurun? Mari kita bahas sekarang, Bu!

Mengapa amandel perlu dihilangkan?

Sebelum membahas lebih lanjut tentang, mari ketahui beberapa hal mendasar tentang amandel, atau dalam bahasa medis yang disebut amandel. Amandel atau amandel adalah 2 jaringan massa yang terletak di bagian belakang mulut, di sisi kanan dan kiri.

Amandel adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh untuk melawan kuman penyebab penyakit. Berada di bagian belakang mulut, amandel bertindak sebagai pusat pemrosesan kuman dan membantu tubuh mengenali berbagai jenis kuman, sehingga mereka dapat diperangi dengan lebih baik.

Meskipun bermanfaat, amandel masih perlu diangkat dengan operasi amandel atau pengangkatan amandel (tonsilektomi) karena beberapa pertimbangan, seperti:

  • Sedikit yang memiliki infeksi berulang, terutama radang amandel, sakit tenggorokan, atau infeksi telinga sekitar 5-6 kali setahun.
  • Sedikit mengalami kesulitan makan atau menelan karena peradangan di bagian belakang tenggorokan.
  • Sedikit tidur mendengkur dan suka berhenti bernapas dalam waktu singkat. Ini disebut apnea tidur obstruktif. Risiko sleep apnea itu sendiri sebenarnya tidak main-main. Kondisi ini dapat mengurangi kualitas tidur anak Anda, sehingga ia tidak bisa tidur nyenyak dan terbangun dengan kondisi yang kurang segar. Pada akhirnya, ini dapat menyebabkan masalah belajar, perilaku, pertumbuhan, dan jantung.
  • Sedikit yang sering terlihat bernapas melalui mulut dan memiliki bau mulut yang menyengat. Hidungnya juga terlihat seperti tersumbat.
  • Meskipun kasus ini sangat jarang, tonsilektomi diperlukan jika perdarahan atau kanker ditemukan di amandel.
Baca juga: Siap Menghadapi Normal Baru dengan Kebiasaan Makan Sehat Baru

Prosedur Operasi Amandel pada Anak

Setelah melalui pemeriksaan dokter anak dan spesialis Telinga Hidung Tenggorokan (THT), dokter akan memberi tahu Anda kapan prosedur tonsilektomi akan dilakukan. Umumnya, si kecil Anda tidak diperbolehkan minum obat satu atau dua minggu sebelum operasi. Selain itu, anak Anda harus dalam kondisi sehat 7 hari sebelum operasi.

Harap dicatat, ada dua jenis operasi amandel yang bisa dilakukan, yaitu:

  • Tonsilektomi tradisional, pengangkatan kedua amandel.
  • Tonsilektomi intrakapsular, yang mengangkat hanya amandel yang terinfeksi dan meninggalkan lapisan kecil untuk melindungi otot-otot tenggorokan di bawahnya.

Keuntungan dari jenis tonsilektomi ini adalah anak Anda dapat pulih lebih cepat, lebih sedikit rasa sakit, sehingga tidak ada kebutuhan untuk obat penghilang rasa sakit, memiliki risiko pendarahan yang lebih rendah, dan lebih mampu makan dan minum setelah prosedur. Dengan pertimbangan ini, tipe ini biasanya dipilih untuk anak-anak.

Kerugiannya, ada kemungkinan yang sangat kecil bahwa jaringan yang tersisa dapat tumbuh kembali atau menjadi terinfeksi dan memerlukan lebih banyak tonsilektomi, tetapi ini tidak umum.

Pada hari amandel akan dilakukan, Si Kecil akan diminta berpuasa terlebih dahulu. Tonsilektomi dimulai dengan pemberian anestesi umum, sehingga si kecil dapat tertidur selama operasi. Operasi akan dilakukan melalui rongga mulut, sehingga tidak akan ada sayatan di kulit dan bekas luka yang terlihat. Ibu dapat menemani anak Anda selama operasi, yang biasanya akan berlangsung selama 20-45 menit.

Pasca operasi, anak Anda dapat pulang segera setelah bangun dari anestesi, tetapi juga dapat disarankan untuk dirawat di rumah sakit. Secara umum, jika tonsilektomi dilakukan ketika anak Anda kurang dari 3 tahun dan terdeteksi menderita gangguan tidur serius, rawat inap akan direkomendasikan sehingga ia dapat menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter THT.

Baca juga: Little Picky Food? Cobalah Cara Ini untuk Mengatasinya

Setelah Tonsilektomi

Bergantung pada jenis operasi apa yang harus dilakukan, masa pemulihan tonsilitis memakan waktu sekitar 7 hari atau lebih. Selama pemulihan, ada beberapa saran yang perlu diikuti, seperti:

  • Hindari makanan yang bertekstur tajam dan keras, seperti hotcakes dan makanan bertepung.
  • Berikan banyak asupan cairan.
  • Makanan yang direkomendasikan untuk dimakan adalah bertekstur lunak, seperti puding, gelatin, es krim, sup, kentang tumbuk, bubur, dan lainnya.
  • Sedikit yang disarankan untuk banyak istirahat di rumah. Anak Anda dapat kembali ke kegiatan di luar atau pergi ke sekolah (jika Anda berada di sekolah) jika Anda dapat makan dan tidur secara normal, dan tidak memerlukan obat penghilang rasa sakit lagi.
  • Ingatkan anak Anda untuk tidak membuang ingus melalui hidung selama 2 minggu setelah operasi dan hindari kegiatan yang terlalu agresif.
  • Temui dokter Anda segera jika anak Anda batuk, muntah, demam, mengeluh bahwa tenggorokannya sakit walaupun ia telah menggunakan obat penghilang rasa sakit, mengalami kesulitan bernapas, dan telah menemukan gumpalan darah / darah dalam air liurnya. Dokter akan melakukan prosedur lain untuk menghentikan pendarahan.

Yang perlu diluruskan, tonsilektomi adalah prosedur yang perlu dilakukan jika kondisi amandel kecil dianggap mengganggu kesehatannya. Meskipun amandel adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh, ini tidak berarti bahwa operasi amandel akan mengganggu sistem kekebalan tubuh anak.

Sistem kekebalan lainnya masih akan bekerja dan melawan semua bentuk kuman yang membahayakan kesehatan. Dengan nutrisi yang baik, lingkungan yang bersih, istirahat yang cukup, dan mencuci tangan secara teratur, kesehatan bayi Anda dapat dipertahankan.

Baca juga: Ibu, jangan paksa anak Anda makan!

Sumber:

Kesehatan Anak. Operasi amandel.

Minnesota anak-anak. Operasi amandel.

Pentingnya Mengontrol Tumbuh Kembang Anak Saat Pandemi COVID-19

Baca semua artikel tentang Coronavirus (COVID-19) di sini.

Meskipun layanan kesehatan anak-anak terganggu oleh pandemi COVID-19, Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) menyarankan orang tua untuk tidak menunda imunisasi dan terus mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan anak di rumah. Apa yang harus dipertimbangkan?

Kebutuhan dasar perkembangan anak selama pandemi harus dipenuhi

perkembangan fisik anak yang sedang tumbuh pandemi

IDAI memberikan masukan kepada pemerintah agar pesanan normal baru pandemi COVID-19 harus disesuaikan dengan kebutuhan dasar perkembangan anak. Akses ke layanan kesehatan anak-anak yang terganggu akan meningkatkan risiko penyakit atau kekurangan gizi yang bisa dicegah.

"Konsep normal baru diharapkan dapat diatur sesuai dengan kebutuhan dasar tumbuh kembang anak. Karena pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal akan menentukan kualitas generasi berikutnya, "tulis IDAI dalam pernyataan persnya.

Selama pandemi, IDAI menekankan bahwa pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak terus dilakukan sesuai dengan rekomendasi dari Departemen Kesehatan. Ini disebut Intervensi Dini untuk Pertumbuhan dan Perkembangan Anak (SDIDTK) yang meliputi:

  1. Stimulasi dini: untuk merangsang otak balita sehingga perkembangan kemampuan untuk bergerak, berbicara, bahasa, sosialisasi, dan kemandirian berlangsung secara optimal sesuai dengan usia anak.
  2. Deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan anak-anak: kegiatan pemeriksaan untuk mendeteksi gangguan perkembangan balita. Deteksi dini akan membuat penanganan lebih mudah.
  3. Intervensi dini: tindakan korektif sehingga pertumbuhan anak kembali normal atau setidaknya gangguannya tidak bertambah buruk.
  4. Rujukan awal: jika seorang balita perlu dirujuk ke dokter ahli, maka rujukan juga harus dibuat sedini mungkin sesuai dengan indikasi.

Tidak dapat dihindari, beberapa layanan kesehatan anak-anak terganggu selama pandemi COVID-19. IDAI mengingatkan orang tua untuk memperhatikan pertumbuhan, perkembangan dan imunisasi anak.

Perbarui Total Distribusi COVID-19
Negara: Indonesia<! – : ->

Data Harian

40.400

Dikonfirmasi

<! –

->

15.703

Lekas ​​sembuh

<! –

->

2,231

Mati

<! –

->

Peta Diseminasi

<! –

->

Cara mengontrol pertumbuhan anak saat di rumah

perkembangan motorik anak-anak sekolah dasar

Apakah pertumbuhan seorang anak dapat dinilai dari pengukuran tinggi, berat, dan lingkar kepala.

Mengutip Situs web IDAI, pertumbuhan anak pada usia 0 hingga 24 bulan adalah periode pertumbuhan tercepat. Selama ini, ada pertumbuhan di otak dan organ lain yang sangat penting.

Gangguan pertumbuhan yang tidak terdeteksi dapat mempengaruhi kualitas hidup anak di masa depan. Karena itu, selama layanan kesehatan anak-anak ditutup selama pandemi, orang tua disarankan untuk mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak di rumah.

Cara mengetahui pertumbuhan bayi normal pada usia satu tahun adalah dengan menghitung berat badan yang mencapai tiga kali berat lahir. Kemudian, panjang tubuh meningkat 50 persen dari panjang kelahiran dan lingkar kepala meningkat sekitar 10 cm dari saat kelahiran.

covid-19 anak imunisasi

Setiap anak tumbuh dengan kecepatan yang berbeda sehingga pengukuran berkala perlu dilakukan untuk memastikan tidak ada gangguan dalam pertumbuhan.

IDAI merekomendasikan agar pengukuran berkala dilakukan dengan jeda waktu berikut.

  • Pengukuran pertumbuhan bayi dari 0 hingga 12 bulan dilakukan setiap bulan.
  • Pengukuran pertumbuhan dari 1 tahun hingga 3 tahun dilakukan setiap 3 bulan.
  • Pengukuran pertumbuhan dari 3 tahun hingga 6 tahun dilakukan setiap 6 bulan.
  • Pengukuran dilakukan setahun sekali pada tahun-tahun berikutnya.

Tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak selama pandemi ini bisa dikendalikan oleh orang tua di rumah. Orang tua dapat mengukur tinggi dan berat badan dengan ukuran menjahit dan berat badan dengan skala yang ada di rumah. Pastikan pengukurannya benar lalu catat.

Selain pertumbuhan fisik, orang tua juga harus memperhatikan perkembangan motorik, keterampilan bahasa, dan kemampuan kognitif anak dengan mengamati dan mencatat. Jika ada penundaan, konsultasikan dengan dokter anak Anda.

Risiko bayi baru lahir yang terinfeksi COVID-19

Bantu dokter dan tenaga medis lainnya untuk mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan menyumbang melalui tautan berikut.

Hello Sehat tidak memberikan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Posting Pentingnya Mengontrol Pertumbuhan Anak ketika Pandemi COVID-19 muncul pertama kali di Hello Sehat.

Obesitas pada Anak Berisiko Terhadap Depresi dan Stres Saat Dewasa

Alias ​​obesitas memang memiliki bahaya bagi kesehatan, terutama pada anak-anak. Mulai dari mengganggu pertumbuhan dan perkembangan hingga memengaruhi kondisi mental. Jadi, apa dampak obesitas terhadap kesehatan mental anak-anak?

Dampak obesitas pada kesehatan mental anak-anak

berat badan anak obesitas

Jumlah kasus obesitas pada anak telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir. WHO saat ini menempatkan obesitas pada anak-anak sebagai salah satu tantangan di dunia kesehatan yang cukup serius.

Studi sebelumnya telah mengaitkan obesitas sebagai anak dengan risiko kematian dini ketika mereka dewasa.

Bentuk dan kesehatan tubuh yang mereka alami semasa kanak-kanak ternyata sangat berpengaruh pada kesehatan mental mereka. Dengan demikian, dampak obesitas terhadap kesehatan mental anak-anak cukup besar.

Ini ditunjukkan melalui studi tentang Kedokteran PLOS. Para ahli dalam penelitian ini menunjukkan bahwa orang yang mengalami obesitas selama masa kanak-kanak berisiko tiga kali lipat untuk meninggal.

Studi ini dihadiri oleh 7.000 peserta yang menjalani perawatan obesitas antara usia 3 dan 17 tahun. Peserta yang mengalami obesitas kemudian dibandingkan dengan 34.000 orang dengan usia, jenis kelamin, dan wilayah tempat tinggal yang sama.

Hasilnya, sebanyak 39 orang (0,55 persen) dalam satu kelompok obesitas meninggal saat menjalani perawatan lanjutan selama rata-rata 3,6 tahun dibandingkan dengan 65 orang pada kelompok lainnya. Kemudian, usia rata-rata kematian mereka adalah 22 tahun.

Kelahiran caesar beresiko obesitas

Dampak obesitas pada kesehatan mental anak-anak ternyata meningkatkan risiko kematian dini ketika tumbuh dewasa, terutama bunuh diri.

Faktanya, penjelasan yang paling masuk akal dari temuan ini adalah komplikasi dari obesitas yang menyebabkan penyakit kronis. Mulai dari diabetes, gangguan fungsi hati, hingga tekanan darah tinggi.

Selain itu, anak-anak dan remaja yang menderita obesitas juga rentan terhadap diskriminasi yang dapat menyebabkan masalah psikologis.

Oleh karena itu, hubungan antara obesitas pada masa kanak-kanak dan kesehatan mental mereka masih perlu ditindaklanjuti dengan penelitian lebih lanjut.

Anak perempuan lebih berisiko daripada anak laki-laki

penyebab obesitas pada anak-anak

Dampak obesitas yang dialami anak-anak terhadap kesehatan mental rupanya perlu mendapat perhatian agar tidak berdampak ketika mereka dewasa.

Studi lain dari Pengobatan BMC menemukan efek obesitas pada risiko kecemasan dan depresi pada anak-anak dan remaja. Dari penelitian tersebut, terungkap bahwa perempuan yang mengalami obesitas memiliki potensi memiliki gangguan kecemasan dan depresi 43 persen lebih tinggi.

Anak laki-laki gemuk memiliki risiko 33 persen lebih tinggi daripada teman sebayanya. Dalam sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari 12.000 anak usia 6-17 tahun, mereka menjalani perawatan karena obesitas.

Meski begitu, ada faktor lain yang mungkin menyebabkan kesehatan mental pada anak. Mulai dari latar belakang keluarga, gangguan neuropsikiatri, hingga status sosial dan ekonomi.

Anak-anak yang obesitas sangat penting untuk mendapatkan perawatan yang memadai dan baik untuk jangka panjang. Hal ini dimaksudkan agar risiko kematian dini akibat obesitas atau bunuh diri akibat gangguan psikologis dapat dikurangi.

Masalah kesehatan mental lainnya pada anak-anak yang mengalami obesitas

Anak-anak gemuk minum susu

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, dampak obesitas pada kesehatan mental anak-anak dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan dan depresi. Keduanya termasuk masalah psikologis yang dialami oleh anak-anak yang menderita obesitas.

Berat badan dapat membentuk suasana sosial yang cukup unik & # 39; dan perlu dihadapi oleh anak-anak. Karena itu, ada beberapa efek psikologis lain yang perlu diketahui orang tua jika anak mereka menderita obesitas.

Hal ini dimaksudkan agar orang tua dapat membantu anak-anak menghadapi tantangan-tantangan ini seiring dengan bertambahnya usia.

Kepercayaan diri yang rendah

mengatasi kemarahan anak-anak

Tidak percaya diri adalah salah satu efek obesitas pada kesehatan mental anak yang paling sering muncul. HAI.besarnya tidak hanya masalah kondisi fisik, tetapi juga sering dibandingkan dengan yang lain. Akibatnya, mereka sangat menyadari kondisi tubuh mereka, sehingga mereka sering merasa sendirian.

Perbandingan sebenarnya bisa muncul dari hal-hal sepele, seperti pilihan pakaian, daya tarik, dan tentu saja berat badan.

Remaja yang mengalami obesitas mungkin tidak merasa cocok di lingkungan itu karena mereka merasa teman sebayanya memiliki kondisi fisik yang lebih baik, alias lebih tipis.

Ini tidak mengejutkan karena beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan anak-anak yang mengalami obesitas cenderung lebih rendah.

Dengan kata lain, obesitas pada anak membuat mereka tidak bahagia dengan diri mereka sendiri dalam berbagai cara, termasuk penampilan.

Perilaku bermasalah meningkat

korban intimidasi

Selain memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah, dampak obesitas pada kesehatan mental anak-anak lain adalah risiko memiliki perilaku bermasalah.

Hampir semua remaja mengalami fase pubertas yang membuat mereka ingin mencoba segalanya dan sering menimbulkan masalah.

Namun, orang tua yang memiliki anak obesitas melaporkan bahwa ada lebih banyak masalah perilaku pada anak mereka.

Misalnya, banyak orang tua memberi tahu anak-anak mereka bahwa sulit untuk mengungkapkan perasaan mereka. Akibatnya, hal itu memicu risiko depresi, kecemasan berlebihan, hingga gangguan makan.

Tidak sedikit dari anak-anak yang mengalami obesitas juga memiliki masalah ketika melepaskan kemarahan mereka, sehingga mereka cenderung menolak atau membantah ketika diberitahu.

jenis intimidasi di sekolah

Selain itu, mereka juga mengungkapkan bahwa anak-anak mereka tidak berprestasi di sekolah dan tidak memiliki banyak teman.

Sebagian besar anak-anak dengan obesitas cenderung memiliki nilai tes rendah dan tidak masuk perguruan tinggi favorit, terutama perempuan. Ini mungkin terjadi karena anak-anak merasa sekolah bukanlah tempat yang aman dan menyenangkan.

Tidak sedikit remaja yang mengalami obesitas intimidasi dari teman sebaya dan orang dewasa. Teman lama mungkin menghindarinya dan mereka kesulitan mendapatkan teman baru.

Ini menyulitkan anak-anak untuk belajar di sekolah dan mendapatkan prestasi yang baik.

Sudah waktunya bagi orang tua untuk bertindak

dampak kekurangan gizi kwashiorkor pada anak-anak

Obesitas pada anak memang berdampak negatif pada kesehatan mental mereka.

Peran orang tua sangat penting untuk mengambil langkah sehingga masalah ini dapat diperbaiki dengan mengundang anak-anak untuk mengubah asupan gizi dan aktivitas fisik mereka.

Jangan lupa untuk menghubungi dokter anak Anda sebagai langkah pertama agar anak Anda mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.

Pos Obesitas pada Anak Beresiko Depresi dan Stres ketika Orang Dewasa muncul pertama kali di Hello Sehat.

Scroll to top